2018: Literasi Tantangan Umat Beragama

Era kecanggihan teknologi seperti sekarang ini ibarat pisau bermata dua. Satu sisi bisa memberi kemanfaatan yang luar bisa di sisi lain juga bisa mendatangkan kemudaratan yang luar biasa pula. Jika dulu orang terbatas dan sulit dalam mengakses aneka informasi dan ilmu pengetahuan, kini di manapun dan kapanpun, orang bisa mengakses aneka informasi dan pengetahuan.

Artikel, jurnal, buku-buku, kitab-kitab yang berbentuk PDF, bisa didapatkan dengan mudah. Tinggal buka internet, googling, donwload, maka dapatlah apa yang dicari. Jika dulu, orang mencari satu hadis harus berlama-lama membuka kitab-kitab hadis yang tebal, kini tinggal memasukkan kata kunci saja, maka dengan mudah hadis yang dicari bisa ditemukan lewat Maktabah Syamilah software yang bisa memuat ratusan ribu judul kitab.

Ilmu-ilmu atau ketrampilan-ketrampilan yang dulu didapatkan dengan mengikuti kursus, datang ke tempatnya, kini bisa didapatkan dengan duduk di rumah sambil membuka tutorialnya di web, melihat vidio langsung di youtube atau bahkan komunikasi langsung secara online.

Melihat kemudahan-kemudahan di atas, harusnya berbanding lurus dengan minat belajar orang-orang di masa kini. Wawasan semakin luas karena setiap saat bisa mengakses aneka informasi dan pengetahuan. Namun apakah seperti itu faktanya? Harus diakui sebagaimana banyak penelitian, minat baca orang-orang di negeri ini sungguh sangat memperihatinkan.

Tapi di sisi lain, negera kita Indonesia menempati lima besar sebagai pengguna media sosial terbesar di dunia, seperti facebook, twitter dan sejenisnya. Besarnya pengguna media sosial, yang tak dibarengi dengan besarnya minat literasi masyarakat ini bisa berdampak cukup ‘mengerikan’.

Berita-berita hoax, provokasi, dan ujaran kebencian disebarkan begitu masifnya. Orang malas untuk membaca kemudian melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap berita yang diterima. Mendapat berita, baca judulnya, kelihatannya menarik, kemudian dibagikan (share) tanpa tahu apa isi berita itu.

Dampak lain dari besarnya minat bermedia sosial tapi tidak diiringi minat literasi adalah, banyaknya orang-orang yang membebek. Si A kok disebut ustad dan populer di medsos, akhirnya ikut-ikutan menyebut si A ustad, padahal dari sisi kualifikasi, tidak layak ia disebut ustad atau penganjur agama.

Betapa mirisnya, jika kita melihat selama tahun 2017 bermunculan ‘ustad-ustad’ karbitan, yang dalam setiap ceramah-ceramah mereka cenderung ngawur, tapi dipuji habis-habisan, dijadikan idola dan panutan.

Menjadi tantangan kita bersama di tahun 2018, untuk menggelorakan kembali semangat iqra’. Semangat literasi, agar umat cerdas, pandai membaca situasi, tidak mudah diadu domba, dibenturkan sana-sini oleh orang atau kelompok yang tidak menginginkan persatuan dan kerukunan antar umat beragama di bumi NKRI ini.

Dengan begitu, agama yang seharusnya menjadikan pemeluknya menjadi pribadi yang welas asih, bisa benar-benar terwujud. Sebab pemeluk agama itu mau belajar untuk benar-benar memahami agama yang dipeluknya.

Zaenal Abidin el-Jambey

Zaenal Abidin el-Jambey

Penulis buku-buku spiritualitas, lulusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: zeinulfa.jambe@yahoo.com.