2018: Menghibur Diri di Tahun Pilkada

Tahun baru selalu menghadirkan harapan baru. Termasuk kemungkinan yang tak mungkin sekalipun.

Lalu lalang tahun berlalu begitu saja. Serasa baru kemarin Januari 2017. Namun nyatanya, kini sudah menapaki Januari 2018.

Lalu apa yang bisa diharapkan dari kondisi politik kita di tahun ini?

Kegaduhan politik sepertinya bakal menguat, jika elit partai masih kukuh bertaruh perebutan kuasa. Kekuasaan memang menyulut pragmatisme yang besar. Termasuk menghalalkan yang haram sekalipun. Itu pun, kalau dalam politik masih ada yang dianggap “haram”.

Sebab belakangan, jejak kusut politik Orde Baru masih hinggap pada praktik penyerapan konstituen. Bedanya, pada masa reformasi, cara-cara yang dilalukan disesuaikan dengan kebutuhan publik. Dari politik uang, kampanye hitam, sampai pada politik agama. Mungkin ini cara elit partai “mereformasi” kondisi politik kebangsaan kita pada Era Reformasi.

Reformasi seperti tertinggal pada tanggal 21 Mei 1998 lalu. Apa yang hadir hari ini, sesungguhnya sebatas pengulangan yang terjadi pada Orde Baru. Hanya cara dan konteksnya berbeda.

Sebagai contoh, pemilu serentak 2017 lalu, menenggelamkan Ahok dalam jurang kebengisan politik, yang sesungguhnya kuburan reformasi yang memang dipersiapkan oleh elit partai yang dibesarkan pada era reformasi ini.

Kita sebenarnya sedang bermain-main pada lautan lepas politik kekuasaan. Kemenangan dipertaruhkan sedemikian rupa. Kekalahan dikutuk sekeras-kerasnya. Pada akhirnya, kemenangan tetaplah kekuasaan yang absolut.

Melepas kekuasaan dari keserakahan sesungguhnya hanya sebatas ilusi. Sampai kapanpun kekuasaan selalu menggiurkan, betapapun tak ada henti-hentinya KPK meringkus elit yang korup.

Saya tak sedang menebar pesismisme. Karena faktanya sejak republik ini berdiri, setiap rezim selalu mengorbankan dan dikorbankan yang lain.

Kenyataan ini, adalah implikasi dari pragmatisme politik kekuasaan.

Lalu apa yang bisa diharapkan dari politik kita di tahun 2018?

Kita sepertinya perlu banyak menghibur diri, setidaknya dengan beranggapan bahwa kegaduhan politik macam apapun menjelang pilkada serentak 2018, adalah cara elit partai bermain-main pada lautan lepas politik kekuasaan.

Dengan demikian, seberapa jauh pun sampan politik berlayar dan memenangkan pertarungan, akhirnya harus pulang ke pantai. Pantai adalah keadilan rakyat. Mereka yang jahat pasti akan dijangkarkan.

Saya tetap percaya, rakyat adalah kedaulatan.

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.