2018: Prospek Ekonomi Indonesia

Beberapa lembaga kredibel memproyeksikan perekonomian Indonesia 2018 tumbuh lebih baik dari periode tahun sebelumnya. Proyeksi ini menurut saya cukup realistis. Jika mencermati data-data indikator pertumbuhan ekonomi, memang laju pertumbuhan ekonomi secara lambat laun berjalan ke arah yang lebih baik. Hal ini diperkuat oleh kondisi pertumbuhan ekonomi global yang mulai kondusif. Walaupun pada 2018 ada beberapa sentimen yang kemungkinan besar berpengaruh terhadap kondusivitas perekonomian Indonesia.

Pertama, 2018 adalah tahun politik, di mana akan diselenggarakan pilkada serentak yang diikuti oleh 171 daerah di Indonesia. Selain itu, 2018 adalah pintu gerbang menuju tahun pemilu 2019. Hal ini tentu akan berdampak pada perekonomian Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kedua, adanya prediksi siklus krisis 10 tahunan. Prediksi ini memang tidak terlalu valid untuk bisa dipercaya, namun jika melihat siklus krisis pada periode sebelumnya yang pernah terjadi pada 1998 dan 2008, maka ada kemungkinan akan terjadi lagi pada tahun 2018.

Namun, saya rasa kita tak perlu mengkhawatirkan adanya dua sentimen tersebut. Sebab, sebagaimana telah saya sebutkan di muka, beberapa lembaga kredibel memproyeksikan perekonomian Indonesia 2018 akan melaju pada pertumbuhan yang positif.

Sebut saja Bank Dunia misalnya, sebagaimana telah dipublikasikan oleh Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia 2018 bakal tumbuh sebesar 5,03 persen dari tahun 2017 yang tumbuh sebesar 5,01 persen. Hal ini didorong oleh laju pertumbuhan investasi yang semakin kuat, dan konsumsi yang mulai pulih. Sedangkan resiko yang dihadapi adalah volatilitas pasar keuangan global dan melambatnya laju pertumbuhan konsumsi swasta, di mana konsumsi swasta merupakan penopang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) tercermin pada kuartal ke empat.

Masih berdasarkan proyeksi Bank Dunia, inflasi harga konsumen Indonesia 2018 diperkirakan berkisar diangka 3,5 persen. Angka ini cukup longgar jika dibandingkan tahun 2017 sebesar 3,8 persen. Kelonggaran ini dikarenakan ada pertimbangan harga makanan yang terus melemah dan diperkuat dengan tidak adanya rencana kenaikan harga energi pada periode mendatang.

Defisit transaksi berjalan Indonesia juga diharapkan menyempit menjadi 1,6 persen dari PDB pada 2017. Di tengah menguatnya harga komoditas serta meningkatkannya permintaan ekspor Indonesia sejalan dengan menguatnya perekonomian global walaupun dibayang-bayangi oleh guncangan term of trade. Pada 2018 diperkiran term of trade akan turun namun investasi tetap terjaga. Sedangkan untuk neraca diperkirakan sedikit melebar pada angka 1,8 persen dari PDB.

Misbahul Munir

Misbahul Munir

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Pascasarjana Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Email: lampuyangterang@gmail.com.