2018: Prospek Pendidikan Indonesia

Lembaran 2018 baru saja dimulai. Segudang asa dan cita-cita yang belum terwujud di tahun 2017 menjadi titik balik menjalani babak baru 2018. Banyak aspek yang perlu dibenahi, salah satunya adalah pendidikan.

Berbicara terkait pendidikan Indonesia, tentu tak luput dari berbagai persoalan. Kalau kita kuliti selama satu tahun ke belakang, hal yang mencolok selain kebijakan lima hari sekolah—full day school, yaitu juga kasus kekerasan pendidikan yang demikian masif dan mengerikan, baik itu yang dilakukan oleh siswa ataupun guru.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada 22 Februari tahun lalu, merilis sebanyak 84% siswa pernah mengalami kekerasan. Angka ini merupakan yang tertinggi, dibanding dengan urutan selanjutnya Vietnam (79%), Nepal (79), Kamboja (73%), dan Pakistan (43%).

Belum lagi persoalan dekadensi moral siswa yang dari waktu ke waktu kian memprihatinkan. Mulai dari masalah sepele, misalnya saja tradisi mencontek hingga tindak kriminal seperti tawuran antar pelajar dan narkoba.

Berbagai persoalan tersebut, sebenarnya dapat diselesaikan di antaranya dengan pendidikan karakter, baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam hal ini, perlu adanya sinergi antara orang tua, guru, dan elemen masyarakat.

Format pendidikan karakter yang digagas pemerintah sebenarnya sudah bagus. Hanya saja masih terbentur pada tahap internalisasinya. Sudah seharusnya pendidikan karakter tak hanya menyentuh dimensi pengetahuan (knowing) saja. Melainkan juga memerlukan perbuatan (acting) yang dilakukan secara nyata (real) dalam kehidupan sehari-hari secara terus menerus dan membudaya.

Orang tua sebagai pilar utama pendidikan dalam keluarga, harus menanamkan karakter sejak dini. Apalagi di era digital seperti dewasa ini, orang tua harus bisa membatasi dan mengawasi anaknya dalam mengakses internet dan menggunakan gadget. Pasalnya, kalau hal tersebut tidak dikontrol, dikhawatirkan akan mengganggu kegiatan belajar mereka. Orang tua juga harus mampu menjadi agen keluarga ramah anak, yang mendidik mereka dengan asah, asih, dan asuh.

Selanjutnya, sekolah harus bisa menghadirkan pendidikan yang menyenangkan. Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang diinisiasi oleh Muhammad Nur Rizal, patut menjadi contoh untuk mewujudkan sekolah ramah anak. Konsep sekolah seperti ini, tentu tidak akan memberi ruang kekerasan siapapun baik dalam bentuk verbal, psikis, maupun fisik. Selain itu, pendidikan karakter dapat dikemas ulang melalui learning by doing. Misalnya saja dengan berkunjung di yayasan anak yatim untuk menanamkan rasa kepedulian.

Sementara itu, masyarakat juga harus turut berperan aktif dalam menciptakan lingkungan aman dan tentram. Iklim pergaulan yang kondusif tentu akan sangat mendukung kesuksesan program yang telah diinisiasi pemerintah yakni kampung ramah anak ataupun kota layak anak. Edukasi terkait pembinaan karakter bisa dilakukan melalui sosialisasi ataupun kampanye melalui poster yang dipasang di tepi jalanan kampung.

Semua itu dapat berjalan dengan optimal tentu ketika konsep pendidikan karakter tidak dijalankan secara parsial, melainkan terintegrasi antara lingkungan keluarga, sekolah, dan juga masyarakat. Artinya, antara ketiga pilar-pilar pendidikan karaketer itu. Tentu dengan didukung oleh pemerintah dan pihak terkait. Dengan itu harapannya ke depan pendidikan nasional kita semakin maju. Semoga!

Suwanto Awan

Suwanto Awan

Analis pendidikan pada Universitas Negeri Yogyakarta. Email: awanayip@gmail.com.