2018: Risk Society dan Masa Depan Kebangsaan Kita

Dalam buku berjudul, Risk Society: Toward a New Modernity (1992), Urlrich Beck, sosiolog terkemuka dunia mengsistilahkan masyarakat yang hidup pada abad modern sebagai masyarakat risiko (risk society). Istilah tersebut dia tujukan untuk melihat realitas masyarakat yang dalam kesehariannya dipenuhi oleh berbagai problem sosial, yang kesemuanya tumbuh akibat meluasnya praktik-praktik imprialisme ekonomi-politik neo capitalisme.

Sebagaimana praktik-praktik kapital pada umumnya, risk society merupakan representasi masyarakat pinggiran yang timbul akibat belum baiknya tata kelola negara-bangsa. Ketidakhadiran negara dalam sektor-sektor rill masyarakat, berakibat pada tidak stabilnya struktur dan lembaga sosial di banyak sektor. Integrasi masyarakat terpecah, kohesi sosial melemah, kemudan muncul instabilitas di lapisan masyarakat. Dalam kehidupan risk society, semua kondisi tersebut bermuara pada adanya kesenjangan kelas sosial. Masyarakat miskin dengan segala risiko di sekitarnya akan semakin terhimpit, karena ketidakberdayaan mereka melawan risiko sosial. Sebaliknya, masyarakat kaya (borjuis) akan semakin kuasa, karena ada kesanggupan dari mereka untuk menghindari, bahkan memanfaatkan situasi pelik tersebut.

Dalam konteks kebangsaan kita, ketidakberdayaan melawan risiko sosial inilah yang dapat kita baca dalam realitas kehidupan masyarakat pada beberapa tahun belakangan ini, khsusnya di tahun 2017 kemarin. Risiko ekonomi yang ditandai oleh belum sehatnya perekonomian, khusunya  di sektor masyarakat bawah. Risiko politik, kian gaduh dan pragmatisnya dinamika politik, baik di level nasional ataupun daerah. Risiko sosial-kultural, polarisasi di kalangan akar rumput, riuh ramainya isu-isu SARA, menyuburnya berita-berita hoax dan ujaran kebencian.

Pertanyaan besarnya kemudian, apakah risiko-risiko sosial tersebut akan berlanjut di tahun sekarang? Berkaca pada tahun sebelumnya, ada kecenderungan dinamika yang terjadi pada tahun kemarin masih akan terus berlanjut. Akan muncul sekian banyak pristiwa serupa sebagai kelanjutan, atau bahkan pengulangan dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi pada tahun ini, selain akan berlangsung perhelatan pilkada serentak 2018, pun juga akan memasuki tahun politik Pilpres 2019. Berbagai risiko sosial, baik yang terjadi secara alamiah ataupun direkayasa, akan banyak mewarnai dinamika kebangsaan kita ke depan.

Adalah sebuah kenaifan jika pada tahun politik ini, di tengah jalan terjal sirkulasi politik daerah-nasional, kita memprediksikan roda kebangsaan akan berjalan normal. Namun demikian, betapapun gejala ke sana begitu kuat, kita harus optimis bahwa segala risiko sosial di tahun (politik) mengkhawatirkan ini dapat kita tekan, atau syukur-syukur jika berhasil dihindari.

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.