Agama Cinta dan Kebencian Kita

Bagi Muhammad Iqbal, agama merupakan ekspresi keseluruhan jati diri manusia. Ketika agama masih berbentuk wahyu, ia bersifat Ilahi. Tetapi ketika agama diterima oleh manusia, ia meresap dalam seluruh relung kehidupan manusia. Dalam keadaan seperti itulah, agama menyatu dalam setiap pikiran, perasaan, serta tindakan manusia.

Setiap manusia yang beragama sepakat bahwa agama mengatur hubungan kemanusiaan, baik yang bersifat vertikal (ibadah) ataupun yang bersifat horizontal (mu’amalah).

Begitupun, kita meyakini, agama merupakan sumber tertinggi nilai-nilai moral yang mengatur sistem kehidupan manusia di alam semesta. Termasuk bagaimana memandang manusia lain seutuhnya.

Tetapi dewasa ini, sikap kita sebagai manusia beragama, perlu kita pertanyakan kembali. Di zaman yang serbah canggih ini, justru manusia mulai mencampakkan nilai-nilai agama itu sendiri.

Media sosial (medsos) yang seharusnya menjadi instrumen untuk sekadar saling sapa pun digunakan sebagai ajang saling serang. Sumpah serapah tak luput dilontaran. Bahkan tak jarang, media sosial digunakan untuk membunuh karakter seseorang.

Perkembangan teknologi dan informasi tidak berkembang secara positif. Tetapi justru membuat kebencian manusia menjadi-jadi. Manusia kini lebih berani mengumpat seseorang lewat media sosial dibandingkan mengumpat secara langsung.

Pada konteks ini, agama seperti kehilangan elan vitalnya sebagai penebar cinta dan kasih sayang. Agama yang seharusnya dijadikan sumber nilai segala sisi kehidupan, kini hanya dijadikan alat untuk menebar kebencian.

Sesungguhnya tidak ada agama yang mengajarkan kebencian. Jikalau ada, dapat dipastikan itu bukanlah agama.

Dalam kajian sufistik, agama seluruhnya diliputi cinta dan kasih sayang. Bahkan Allah pun melalui sifat RahmaniyahNya mengasihi seluruh makhluknya, tak peduli dia kafir ataupun mukmin. Bahkan semesta pun tak luput dari kasih-Nya.

Jika Tuhan pun mencinta, seharusnya manusia rela menghilangkan egonya untuk saling benci dan mulai menumbuhkan cinta kepada sesama sebagai bukti kecintaan kita kepada-Nya.

Tetapi kita belakangan lebih mudah jatuh benci dari pada jatuh cinta. Bahkan untuk mencintai sesama, kita selalu menanyakan, apa dalilnya? Meski tidak pernah ada dalil untuk saling membenci.

Mukhammad Ichwanul Arifin

Mukhammad Ichwanul Arifin

Pengkaji tasawuf, lulusan Akidah dan Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: ichwan.ungu@yahoo.co.id.

Satu tanggapan untuk “Agama Cinta dan Kebencian Kita

Komentar ditutup.