Agama dan Nalar Kekerasan

Kendati  reformasi—usaha untuk mewujudkan demokrasi subtantif—sudah bergulir hampir dua dekade, namun sampai detik ini kita menyaksikan tindak tanduk anarkisme pada tingkat kehidupan masyarakat, khususnya di kalangan akar rumput, masih bergulir deras. Beragam aksi kekerasan berupa pemukulan, pembunuhan, persekusi, pengerusakan, hingga penyerangan  tempat peribadatan agama tertentu tak henti-hentinya merong-rong realitas kebangsaan kita.

Kasus terbaru datang dari Sleman, Yogyakarta. Pasalnya, pada hari Minggu (11/2) kemarin terjadi penyerangan terhadap Gereja St Lidwina Sleman. Atas kejadian tersebut, beberapa jemaat dan pimpinan gereja megalami luka akibat sabetan senjata tajam yang digunakan oleh pelaku. Pristiwa Sleman tersebut tidak saja telah menodai sisi keberagaman bangsa kita, namun kian mempertegas atas kondisi kebangsaan kita yang dari waktu ke waktu terus diwarnai atau bahkan dilengketi oleh kekerasan. Boleh dibilang, aksi kekerasan ini merupakan fenomena gunung es dari beragam kekerasan yang sejauh ini kita diamkan, atau mungkin kita pandang sebelah mata.

Harus diakui, aksi kekerasan berupa penyerangan Gereja St Lidwina Sleman bukan hal baru di negeri ini. Aksi kekerasan tersebut adalah pengulangan dari sekian aksi kekerasan sebelumnya. Dan mungkin, ke depannya masih akan banyak lagi kasus serupa, bahkan dengan modus aksi yang lebih tragis dan menakutkan. Apalagi, sejauh ini kita seolah tidak cukup sadar untuk mengambil pelajaran dari sekian banyak pristiwa kekerasan yang telah terjadi.

Secara sosiologis, kita sepakat bahwa tindakan kekerasan, apapun itu bentuk dan motifnya, merupakan sebuah penyimpangan individual dari norma-norma sosial yang berlaku dalam kehidupan masyarakat (Erich Fromm), yang tidak saja berpotensi besar mengganggu stabilitas sosial, namun juga dapat memberangus kohesi dan integrasi sosial. Dan ketika kekerasan dilakukan secara berulang-ulang pada gilirannya akan memunculkan sebuah anomie, sehingga dapat melahirkan tindak kekerasan yang sama di kemudian hari.

Sebagai bangsa yang mencitai kedamaian dan ketentraman, tentu kita tidak mengingikan peristiwa serupa terulang kembali. Sebab itu, jalan satu-satunya meniadakannya adalah dengan memutus mata rantai kekerasan itu sendiri. Salah satunya adalah dengan cara mendewasakan diri dalam beragama.

Dalam banyak kasus, dorongan utama berperilaku keras seringkali dipicu oleh sentimen keagamaan yang tak terkendali. Kesalahan dalam menafsirkan agama membuat orang hilang arah. Bahkan mengubur sisi nuraninya untuk berperilaku manusiawi. Pada situasi ini, ketika agama direpresentasikan dalam tindak kekersan, maka sesungguhnya kita telah mendudukkan agama sebagai nalar kekerasan.

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.