Agama, Kiai Dahlan, dan Keutamaan Akal

Kehadiran agama tak lain adalah untuk menyegarkan kembali fungsi akal. Agama memang membawa manusia kepada keselamatan, keamanan, perasaan tenang, dan bahkan kesejahteraan. Apa yang dibawa oleh agama ini, tak bisa semata-mata hanya diimani, tapi juga harus dipikirkan.

Orang sering lupa, agama memerlukan akal sebagai sebuah jalan untuk memahami segala sesuatu. Bahkan kehadiran manusia sendiri dibanding dengan makhluk lain dibedakan oleh akal. Kewajiban menjalankan agama pun demikian halnya. Bila seseorang gila (kurang akal), ia tak dikenakan hukum agama.

K.H. Ahmad Dahlan adalah salah seorang kiai yang dianggap mumpuni dibanding kiai lain di masa itu karena kecerdasannya. Kita bisa menengok pengakuan yang diberikan oleh K.R.H. Hajid penasehat PP Muhammadiyah sekaligus muridnya.

KR.H. Hajid menulis di buku Falsafah Ajaran K.H. Ahmad Dahlan, “Seumpama para ulama saya gambarkan sebagai tentara, dan kitab-kitab yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan, toko-toko kitab, saya gambarkan sebagai senjata-senjata yang tersimpan dalam gudang, maka Kiyahi Ahmad Dahlan seperti salah satunya terntara yang tahu mempergunakan bermacam-macam senjata menurut mestinya. Kiyahi Ahmad Dahlan disamping mempunyai sifat dzakak cerdas akalnya untuk memahami kitab yang sukar, beliau mempunyai maziyah atau keistimewaan dalam khauf atau rasa takut kepada kabar bahaya besar.”

Sebagai pemimpin organisasi kemasyarakatan yang besar seperti Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan memberikan contoh bahwa agama menjunjung tinggi akal. Banyak ayat dalam al-Quran memberikan peringatan dan pentingnya menggunakan akal untuk berpikir. Ada kaitan antara akal dan hawa nafsu. Bila seorang berbuat maksiat, maka yang kuasa adalah hawa nafsu. Untuk perkara ini, Kiai Dahlan sudah memberikan sindiran juga wejangan mengenai tabiat manusia yang seperti ini. “Dalam agamaku terang benderang bagi orang yang mendapat petunjuk, tetapi hawa nafsu (menuruti kesenangan) merajalela di mana-mana, kemudian menyebabkan akal manusia menjadi buta.”

Ketika melihat fenomena keagamaan di Indonesia seperti yang berkembang sekarang ini, banyak orang melupakan akal sebagai sebuah jalan untuk memahaminya. Tak pelak, muncul ulama yang kemudian membingungkan, menyesatkan, menggiring umatnya pada jalan yang susah dinalar.

Kabar ajakan minum kencing onta dari Bachtiar Nasir yang viral itu menjadi daftar panjang agama tak dipahami dengan akal. Dalil, tak bisa sepenuhnya dipahami atau sampai pada manusia, tanpa menggunakan akal sebagai jalan untuk memahaminya.

Arif Yudistira

Arif Yudistira

Pendidik di SMK Kesehatan Citra Medika, pernah mengajar di MIM PK Kartasura. Email: arif_love_cinta@yahoo.co.id