Agama “NU” dan Madura yang Tersobek

Kasus penyisiran (sweeping) oleh sekompok ormas Islam terhadap desa yang dinilai lumbung prostitusi di Pamekasan Madura (19/1), menyentak nalar kemaduraan yang telah menyatu dengan denyut ke-NU-an dalam masyarakat Madura. Betapa tidak, akibat kasus tersebut, 10 orang, termasuk ibu dan anak-anak mengalami luka (CNN Indonesia, 22/1).

Dahulu, di pulau mungil yang penduduknya menyebar ke berbagai tempat, kesantunan dalam bersikap merupakan salah satu penanda paling jelas dari tradisi ke-NU-an. Sampai-sampai muncul anekdot soal agama “NU”, untuk menegaskan keberislaman yang santun dan ramah tradisi. Hanya, anekdot tinggalah lelucon. Arus perubahan dunia yang begitu cepat, menggeser lelucon ke-NU-an, menjadi nada beringas dalam pola tingkah keislaman masyarakat Madura.

Jika dahulu, hanya NU dan Muhammadiyah, yang tumbuh di Madura, kini bermacam ormas menyeruak di berbagai dearah Madura, termasuk kelomok Wahabi dan FPI yang selama ini dikenal ormas ekstremis, juga HTI gembong transnasionliamse Khilafah Islamiyah, yang kini sudah dibubarkan oleh pemerintah.

Berkembangnya model ormas seperti Wahabi, FPI, dan HTI di Madura, menjadi catatan penting bagi aktivis NU, untuk tak sekadar sibuk dengan urusan legal formal organisasi, namun harus menggarap ranah kultural tradisi keislaman masyarakat Madura.

Tantangan masyarakat Madura memang sangat beragam. Pasca beroperasinya Jembatan Suramadu, Madura hadir seperti kota masa depan. Tak pelak berbagai proyek pembangunan dicanangkan di Madura. Surabaya sebagai kota besar di Jawa Timur seperti hendak digeser ke pulau Madura. Maka industrialisasi merupakan sesuatu yang niscaya, yang pada akhirnya akan juga berkembang di Madura.

Sekarang isu yang santer di Madura, terutama di ujung timur, bagian Kabupaten Sumenep, adalah penguasaan tanah oleh investor asing. Daya beli yang tinggi oleh para investor, membuat masyarakat di Sumenep, sangat mudah merelakan tanahnya ditukar dengan uang jumlah besar. Tentu tak sederhana mengurai persoalan ini, selain tentang kesadaran menjaga tanah, kasus seperti ini erat kaitannya dengan desakan kebutuhan ekonomi.

Selain isu tersebut, kasus Wahabisasi, FPI-sasi, dan juga HTI-sasi di Madura menjadi isu seksi, yang banyak menjadi objek penelitian. Persoaalan ini tentu menjadi tantangan besar pemuka agama, terutama NU, sebagai ormas terbesar di Madura. Kehadiran kelompok-kelompok ormas tersebut tak pelak, meski pelan, kalau terus dibiarkan pasti akan menggeser kekuatan NU di Madura.

Sebenarnya bukan soal siapa yang kuat dan lemah, siapa yang menang dan kalah, serta siapa yang benar dan salah, namun lebih kepada bagaimana membangun moral beragama yang santun dan beradab, serta menjaga kohesi sosial masyarakat Madura, yang guyub dan penuh persaudaraan.

Setiap ormas Islam memiliki klaim kebenaran (truth claim) sendiri-sendiri, serta memikul tanggung jawab melestarikan—mendakwahkannya. Hanya kesantunan dalam berdakwah harus tetap dijaga. Ormas-ormas Islam selain NU dan Muhammadiyah, sepertinya memang kurang santun dalam berdakwah. Kasus sweeping di Pamekasan, menyobek narasi kemaduraan dan keislaman, yang telah lama ditenun oleh para kiai NU di Madura.

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.