Azwar Anas, Mundur atau Dimundurkan?

Beredar berita di banyak media, Azwar Anas mundur dari pencalonannya sebagai cawagub Gus Ipul pada Pilgub Jatim 2018.

Berita pengunduran ini tentu mengejutkan banyak pihak, termasuk masyarakat Jatim sebagai konstituen yang bakal menentukan nasib pemerintahan Jatim pada 27 Juni mendatang.

Sampai tulisan ini dibuat, tak ada alasan pasti mengapa Azwar Anas mundur dari pertarungan Pilgub Jatim. Hanya beredar rumor bahwa ada foto-foto syur Azwar Anas dengan perempuan yang juga sudah banyak beredar di media.

Kontestasi Pilgub Jatim belakangan memang semakin memanas. Pementasan Gus Ipul-Mas Anas dan Khofifah-Emil sebagai kader yang sama-sama dari NU (baca juga ulasan Masduri, Pilgub Jatim dan Politik Agama), memungkinkan gejolak internal dari tubuh organisasi keagamaan itu menguat.

Terlepas dari beredarnya foto-foto syur Mas Anas, pertarungan Gus Ipul-Mas Anas dan Khofifah-Emil belakangan secara politik semakin menguat, bahkan kemungkinan Gus Ipul-Mas Anas dipatahkan oleh Khofifah-Emil sangat mungkin sekali.

Sebelumnya di Jatim sempat riuh terkait dengan kehadiran poros tengah dari Gerindra, PAN, dan PKS, yang bakal mengusung Yenny Wahid, putri Gus Dur. Meski akhirnya Yenny menolak pinangan Prabowo Subianto dengan alasan tidak dizinkan keluarga dan kiai sepuh NU.

Andai Yenny maju dalam Pilgub Jatim, tentu keriuahan politik kita semakin besar, mengigat ketiga kendidat yang bakal bertarung sama-sama dari NU.

Melihat perkembangan politik terakhir, terutama menjelang pendaftaran Cagub-Cawagub Jatim pada 8-10 Januari ini, tentu elit politik melakukan kalkulasi sematang mungkin, untuk memastikan calon yang bakal diusung mampu memenangkan kontestasi Pilgub.

Karena, kalau kelompok Prabowo tidak jadi menghadirkan poros tengah, kemungkinan besar bakal melakukan koalisi dengan kelompok Khofifah-Emil, yang didukung oleh Partai Demokrat. Secara politik, berkaca pada Pilpres 2014 lalu dan membaca Pilpres 2019, sangat sulit dibayangkan Gerindra bakal melakukan koalisi dengan PDI-P yang saat ini sedang dipimpin oleh Megawati.

Dengan demikian, penguduran Mas Anas, yang sesungguhnya bisa juga dimaknai pemaksaan pengunduran Mas Anas dari kontestasi Pilgub Jatim, menjadi cerminan dari kalkulasi politik partai pengusung Gus Ipul-Mas Anas.

Secara politik, kekuatan Khofifah-Emil semakin menguat, apalagi kalau nanti didukung kelompok Prabowo. Maka, kelompok pendukung Gus Ipul mencari alternatif dari figur lain, yang secara popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas tinggi. Risma tentu menjadi pilihan terbaik.

Hanya, yang terasa kurang elok adalah penguduruan pada detik-detik menjelang pendaftaran. Seolah deklarasi pencalonan Gus Ipul-Mas Anas beberapa waktu lalu sebatas permainan.

Atau mungkin, politik memang sebatas bahan permainan?

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.