Bahaya Sosial Anak Korban Pedofilia

Baru-baru ini publik dikejutkan oleh terungkapnya kasus kejahatan seksual anak (pedofilia) yang terjadi di Tangerang. Kasus bermodus sodomi tersebut melibatkan seorang pria berinisal WS. Berdasarkan informasi yang berkembang di banyak media, tercata 41 anak menjadi korban nafsu bejatanya. Besar kemungkinan angka tersebut akan terus bertambah seiring banyaknya laporan dari masyarakat sekitarnya.

Terungkapnya kasus pedofil WS, bukan saja telah menambah daftar kasus pedofilia di negeri ini, namun juga kian mempertegas betapa kejahatan seksual masih mengintai dan menghantui dunia anak. Sehingga wajar bila banyak masyarakat merasa khawatir bercampur takut akan nasib dan keberadaan anak mereka.

Jika melihat dampaknya, rasa takut dan khawatir masyarakat sangat berlasan. Apalagi, dampak praktik sodomi anak bukan saja mengancam aspek perkembangan psikologisnya, namun lebih dari itu bisa menimbulkan bahaya yang lebih besar, yakni bahaya sosial. Dalam banyak kasus, anak korban pedofilia sering kali memperoleh perlakuan dan pandangan tidak baik dari masyarakat sekitarnya, karena latar dirinya sebagai korban sodomi.

Dalam kaitan ini, Weber dan Smith (2010) menemeukan fakta, bahwa anak yang menjadi korban kejahatan seksual pada masa kanak-kanak memiliki potensi untuk menjadi pelaku kekerasan seksual di kemudian hari. Tersebab, mengindetifikasi anak dengan dunia pedofil—meski dengan sebutan korban—sama halnya dengan memberi label (baca: labelling) terhadap mereka sebagai bagian dari dunia pedofil.

Pembacaan seperti ini sangat mungkin terjadi, karena secara sosiologis disebutkan bahwa salah satu faktor tumbuhnya perilaku sosial menyimpang dapat dilatari oleh adanya labelling. Lemert (dalam Sunarto, 2004) menjelaskan, pemberian cap atau label dari masyarakat kepada seseorang pada saat-saat tertentu akan memicu lahirnya perilaku menyimpang sesuai dengan cap atau label yang diberikan padanya.

Sayangnya, meski kadar bahaya sosial anak korban seksual lebih berat, namun nyatanya tidak banyak pihak yang  tahu, atau bahkan peduli. Nyatanya, dalam banyak kasus pedofilia, perhatian kita selama ini sering kali tertuju pada pelaku, sebaliknya kita senantiasa abai terhadap keberadaan anak selaku korban. Padahal dalam tindak kejahatan seperti ini, sejatinya korbanlah yang paling berat menanggung derita, baik derita secara psikis ataupun sosial.

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.