Benang Kusut Kinerja DPR

Wajah baru Anggota DPR saja dilantik. Kita berandai banyak, para anggota dewan yang terhormat, bisa bekerja maksimal di periode 2019-2024. Karena sejauh ini, kinerja anggota dewan, selalu paling tidak memuaskan.

Andaian itu, tak lama, sudah terhalau oleh banyaknya Anggota DPR, yang bolos pada sidang paripurna penetapan pimpinan DPR. Seperti tersiar dalam banyak berita, hanya 285 anggota dewan yang hadir. Berarti ada 290 orang yang tidak menghadiri sidang penetapan pimpinan DPR tersebut.

Kondisi ini, meneguhkan, jika persoalan efektivitas kinerja anggota dewan itu sudah seperti benang kusut. Susah berharap banyak, kinerja Anggota DPR bakal terus membaik ke depan. Belum lagi, belakangan semua partai politik merapat ke pemerintah. Saling berebut kue kekuasaan. Sehingga fungsi pengawasaan DPR susah diharapkan berjalan maksimal.

Politik kita sejauh ini memang berjalan seperti perahu dalam kendali nakhoda. Kritisisme personal tidak bermakna sama sekali. Karena kendali politik, ada pada pimpinan partai.

Karenanya, tak keterlaluan, jika kemudian kita menyebut para anggota dewan sesungguhnya tak jauh beda dengan segerombolan massa, yang sudah dikondisikan sedemikian rupa untuk mendukung ataupun menyerang, segenap hal yang menjadi kehendak pimpinan partai.

Potret ini menarasikan, jika sejauh ini panggung demokrasi kita hanya kamuflase, dari jiwa-jiwa otoriter yang sedang berpura-pura sangat demokratis. Hampir semua partai politik, kini dipimpin oleh orang-orang yang sedang membangun dinasti panjang kekuasaannya.

Jika kita berandai tinggi kinerja anggota dewan bakal semakin membaik, kita perlu melihat dulu kinerja partai politiknya. Karena kinerja anggota dewan adalah representasi dari kinerja partai politik pengusungnya.

Kalau partai politik serius menghendaki anggota dewan yang berkualitas, tentu pimpinan partai harus tegas memberikan sanksi pada setiap anggota dewan dari partainya yang berkinerja buruk. Tapi faktanya, mereka yang selama ini diberikan sanksi, bahkkan sampai diberhentikan sebagai anggota dewan, karena menentang atau berseberangan pandangan dengan pimpinan partai bersangkutan. Soal kinerja bagi mereka belakangan, yang penting loyalitas pada pimpinan partai.

Artinya, DPR selama ini bekerja bukan sebagai wakil rakyat, tapi wakil dari pimpinan partai politik.

Lalu, apakah mungkin kinerja mereka bakal membaik?

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.