Berebut Pengaruh Kiai (NU) di Pilkada 2018

Selesai sudah drama pencalonan Pilkada Serentak 2018, 171 daerah yang tahun ini akan menyelenggarakan kontetasi pilkada telah memiliki calon masing-masing. Dalam masa yang relatif panjang, kita menyaksikan dinamika pencalonan yang begitu alot, dramatis, dan tegang.

Aksi bongkar-pasang, lobi-lobi, kocok ulang, tarik-menarik, pecah kongsi, hingga pengunduran menjelang detik-detik pendaftaran, mewarnai drama pencalonan Pilkada 2018.

Dari sekian banyak daerah yang akan menghelat Pilkada Serentak 2018, tiga provinsi di Jawa, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, merupakan daerah paling banyak mengundang perhatian. Pasalnya, tiga daerah ini adalah wilayah-wilayah strategis, di mana hampir 50 persen suara nasional ada di tiga provinsi tersebut.

Dengan lumbung suara nasional hampir 50 persen, kita akan menyaksikan proses rolling class (baca: Gaetano Costa) akan berjalan sengit. Semua elit politik akan berkerja keras dan all out untuk menyukseskan pasangan calon (paslon) usungannya.

Hal menarik dalam pilkada di tiga provinsi ini ada pada kentalnya nuansa mobilisasi jaringan religio-ideologis. Memanfaatkan platform ormas keagaman sebagai taktik atau strategi mendulang dukungan publik.

Mobilisasi jaringan religio-ideologi secara telanjang dapat kita saksikan pada aspek penjaringan paslon. Baik di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, kesemua paslon yang akan bertanding memiliki hubungan emosial kuat dengan religio-ideologi tertentu. Dalam kaitan ini, NU sebagai organisasi keagaman dengan populasi pengikut paling banyak, menjadi aspek religio-ideologi yang paling diperhatikan.

Situasi inilah yang kemudian berusaha dimanfaatkan oleh banyak parpol untuk memilih jagoan yang berasal dari tokoh NU. Di Jawa Timur misalnya, Gus Ipul merupakan sosok mantan Ketua Umum GP Ansor, yang sekaligus memiliki trah kiai. Begitu juga kompetitornya, Khofifah Indar Parawanasa, Ketua Umum Muslimat NU.

Satu rupa dengan Jawa Timur, Jawa Tengah juga memiliki tipologi yang sama. Sudirman Said yang awalnya gencar memburu Gus Yasin, putera kiai sepuh NU, K.H. Maimoen Zubair, akhirnya harus legowo setelah ditikung oleh Ganjar Pranowo. Tak kalah cerdik, Sudirman akhirnya meminang Ida Fauziah, Ketua Umum Fatayat NU. Dengan melamar Fauziah, besar peluang Sudirman akan menyasar suara kalangan perempuan dan Nahdliyin.

Begitupun di Jabar, pasangan Cagub Deddy Mizwar, Dedi Mulyadi, merupakan pengurus NU di Purwakarta, dan Cagub Ridwan Kamil adalah keturunan kiai NU.

Banyaknya tokoh NU yang berkompetisi di pilkada tahun ini, sudah barang tentu akan membuat peta politik sulit ditebak. Dalam situasi seperti ini, kemampuan mesin partai dalam hal mempengaruhi elit-elit NU (baca: kiai dan pesantren) dapat menjadi variabel paling menentukan.

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.