Di Era Digital, Menulis untuk Perjuangan

Di era digital, virus-virus media sosial menebar, ada virus kebaikan, ada pula virus kebatilan. Ruang publik (virtual, aktual) menjelma menjadi medan laga wacana yang berkecamuk setiap waktu. Konyolnya, kita bukanlah penonton pasif bagi pertempuran itu, melainkan (mau tak mau) terlibat di dalamnya. Ada drama di panggung yang harus dilakoni.

Pertempuran kerap meluas dan mendalam. Bukan hanya berkisar ranah pribadi, melainkan juga menyinggung ranah komunitas, masyarakat, dan bahkan bangsa. Beredarnya berita-berita hoax menjadikan medan itu keruh dan memprihatinkan. Sentimen siap menjadi api di dalam sekam. Dalam kondisi ini tak pelak manusia terjebak dalam keterasingan.

Namun, beruntunglah, kata pujangga Ronggowarsito, wong kang eling lan waspada, orang yang tetap ingat dan waspada. Yakni, manusia yang tetap mampu membedakan mana kebaikan dan mana kebatilan, kendati terjebak dalam zaman edan yang penuh keabu-abuan. Juga manusia yang tetap bertindak dan berjuang dalam kebaikan.

Untuk Anda yang menggeluti dunia tulis-menulis, berjuang lewat tulisan, untuk menegakkan kebaikan, adalah sebuah panggilan. Dapatkah perjuangan dilakukan dengan menulis? Adakah pejuang yang menghayati perjuangannya lewat tulisan yang dihasilkannya? Jawabannya, mengapa tidak? Serdadu berjuang dengan senjata, penceramah dengan lisan, penulis dengan tulisan.

Berjuang membela kebaikan dalam ranah keberlangsungan agama, negara, dan bangsa, wajib hukumnya. Jika Anda bertekad bahwa menulis itu perjuangan, maka wajibkan diri Anda untuk menulis. Jika tidak menulis, Anda berdosa. Ada semacam utang perjuangan yang diabaikan.

Lihatlah betapa banyak masalah negeri ini yang harus diselesaikan. Virus-virus kebatilan bergentayangan setiap waktu, yang siap menerkam siapa saja. Untuk menghadapi dan menghalau semua itu, perlu kekuatan mentalitas bangsa ini. Bangsa ini harus disadarkan, harus dibangkitkan, harus digerakkan. Penulis urgen mengambil peran di dalamnya.

Maka, berjuanglah lewat tulisan. Berantaslah kesesatan, kemunafikan, dan kemunkaran lewat tulisan Anda. Berantas pula kebodohan, dan bangkitkan bangsa ini dari kemiskinan lewat tulisan Anda yang mencerahkan dan mencerdaskan. Demikian kompleks masalah negeri ini, sehingga Anda perlu menyuarakan gagasan-gagasan lewat tulisan. Tulisan Anda, baik fiksi maupun nonfiksi, akan menggerakkan bangsa ini dengan caranya sendiri. Dengan berjuang lewat tulisan, Anda juga ikut berjuang membangun dan mengawal peradaban.

Imam Al-Ghazali dengan Ihya’ Ulumuddin berjuang untuk membenahi keilmuan dan keulamaan umat Islam, termasuk menekankan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar—aktivitas yang merupakan kutub terbesar dalam urusan agama. Jika aktivitas ini lenyap, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan merajalela, satu negeri akan binasa. Kontribusi Al-Ghazali bersama Abdul Qadir Al-Jilani berperan sangat besar atas kemunculan Shalahuddin Al-Ayyubi, pemimpin cemerlang Islam yang memenangi Perang Salib.

Anda bisa menaruh hormat dan penghargaan pada para penulis dan pejuang keilmuan seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Batutah, Ibnu Rusyd, Imam Bukhari,  Buya Hamka, Gus Dur, dan sebagainya. Kiai Saifuddin Zuhri, tokoh NU jauh hari sebelum Indonesia merdeka, juga berjuang membangun kesadaran kolektif bangsa dengan menulis buku tentang Palestina (Duta Masyarakat, 11/12/2017).

Jika dicermati, selain pejuang keilmuan, mereka juga pejuang bagi kemanusiaan di negeri dan masa masing-masing. Di Indonesia dewasa ini juga bermunculan sekian banyak tokoh yang bergerak sebagai pejuang yang juga menulis. Di luar sana pastilah banyak pejuang dengan status sejenis. Sangat mulia jika Anda bisa berguru tentang pengetahuan dan kearifan pada mereka.

Anda juga bisa meneladani para penulis inspiratif seperti Dale Carnegie. Dale Carnegie adalah motivator ulung kelas dunia. Ingat, Dale Carnegie lewat berbagai bukunya bisa memesona jutaan orang di dunia. Buku Dale Carnegie yang berjudul How to Win Friends and Influence People telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan itu menunjukkan bahwa buku tersebut sangat berpengaruh. Entah berapa juta kutipan dari buku-bukunya telah mengendon di buku-buku atau artikel selanjutnya. Belum lagi jumlah orang yang terpengaruh caranya bersikap, berpikir, dan bertindak. Luar biasa!

Dari segi kekuatan pengaruh tulisan, Anda juga bisa becermin pada buku Robert B. Downs berjudul Buku-Buku Pengubah Sejarah (2001). Buku ini membeberkan kedahsyatan buku-buku Niccolo Machiavelli Il Principe, Thomas Paine Common Sense, Adam Smith Wealth of Nations, Thomas Malthus Essay on the Principle of Population,  Karl Marx Das Kapital, Adolf Hitler Mein Kampf, Sir Isaac Newton Principa Mathematica, Sigmund Freud DieTraumdeutung, Charles Darwin Origin of Species, dan Albert Einstein Relativity, The Special and General Theories. Sekali lagi, kita layak becermin dari kedahsyatan pengaruhnya, bukan substansinya—karena substansi tulisan kita adalah sepenuhnya otoritas kita.

Lihatlah, mereka para penulis yang telah berjuang, baik dalam ranah ilmu maupun ranah praksisnya. Dengan caranya masing-masing, mereka berjuang dengan tulisan. Apalagi yang lebih pantas Anda teladani dari mereka? Maka, contohlah mereka. Berjuanglah lewat tulisan. Tanamkan di dalam benak dan hati, bahwa tanpa perjuangan lewat tulisan, Anda tidak banyak berguna bagi orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling besar manfaatnya bagi orang lain?

Much. Khori

Much. Khori

Dosen, editor, dan penulis buku, Universitas Negeri Surabaya.