DPR dan Kritik yang Tak Etis

Demokrasi menasbihkan bangsa ini menjadi bangsa yang kritis. Setiap warga negara, siapapun dirinya, dapat menyuarakan aspirasi, menyampaikan pendapat, dan memunculkan nalar kritis masing-masing, tanpa ada lagi pengekangan, pengkerdilan seperti yang pernah terjadi di masa Orba lalu. Kebebasan (bersuara) adalah satu dari sekian pilar utama yang dapat menentukan hidup-matinya alam demokrasi. Kebebasan, dalam batasan-batasan tertentu, menjadi ruang di mana setiap individu dapat terlibat aktif dalam proses pembangunana bangsa-negara.

Hanya, dalam banyak kesempatan, nalar kebebasan demokrasi seringkali membuat bangsa ini lupa diri. Kebebasan, yang seharusnya menjadi ruang terjalinnya dialog antara negara dengan warganya, menjadi tidak lagi produktif karena ketidaktahuan kita untuk memahami dan mempraktikkannya dalam arti yang proporsional. Dalam kaitan ini, ketika kebebasan, termasuk dalam hal berpendapat, telah terdistorsi dari makna sesungguhnya, maka yang terjadi adalah munculnya sebuah nalar berpikir kritis yang tidak etis. Alih-alih menghadirkan gagasan solutif, yang terjadi malah sebaliknya, kian memperunyam situasi dan menambah kegaduhan.

Nalar kritis tak etis inilah yang kita baca atas sikap anggota DPR, Arteria dahlan, yang dalam rapat Komisi III DPR bersama Jaksa Agung, M Prasetyo, kemarin mengucapkan kata ‘bangsat’ pada Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. Kosa kata ‘bangsat’ yang terlontar dari politikus PDIP ini sontak saja menuai kekecewaan dari banyak publik. Bukan saja karena diksinya yang mengandung makian, namun juga karena kapasitasnya sebagai anggota dewan, elit politisi yang seharusnya mempertontonkan etika.

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban dan moral, kita tentu sangat menyayangkan sikap Arteria Dahlan. Meski kata ‘bangsat’ tersebut keluar dalam kapasitasnya sebagai perwakilan rakyat, dengan dalih menjalankan fungsi pengawasan sekalipun, tentu kosakata tersebut tidaklah patut diucapkan. Problem etik sebagai anggota dewan bukan sekadar persoalan baik-buruk, tapi juga berkaitan dengan pendidikan (politik) bagi warga negara, dan generasi muda pada khususnya.

Sikap tak etis dari seorang Arteria Dahlan, dalam kapasitasnya sebagai anggota dewan, mau tidak mau akan semakin memperburuk citra DPR di mata masyarakat, karena ecara sadar masyarakat dapat menilai, bahwa apa yang terlontar dari Arteria Dahlan sangat tidak etis. Bahkan dengan  alasan, dalih, atau pembenaran apapun. Pribahasa bijak mengajarkan, bahwa penghotamatan tidak akan pernah kita dapat sebelum kita dapat menghormati orang lain.

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.