Efek Ganda Kartu Kuning Jokowi

Setiap tindakan politis, pasti selalu memunculkan puji dan caci. Sama halnya, dengan tindakan Zaadit Taqwa, Ketua BEM Universitas Indonesia (UI), yang mengacungkan kartu kuning beserta bunyi pluit yang ditiupnya pada acara Ulang Tahun UI yang ke 68. Zaadit dipuji karena keberaniannya menyampaikan kritik pada Presiden Jokowi. Sesautu yang barangkali sulit ditemukan pada mahasiswa zaman now, yang hidup dalam luapan dunia digital dan hedonisme.

Namun demikian, buntut dari tindakan Zaadit tak melulu berbuah manis. Yang nyinyir dan mencaci juga hadir menyertai efek ganda dari tindakannya. Zaadit dianggap tak beretika karena pada acara resmi ulang tahun kampusnya sendiri, jutsru berbuat sesuatu yang secara etika tak layak ditampilkan di depan publik. Sebab, meski hendak menyampaikan kritik terhadap presiden, harusnya dilakukan dengan cara lain yang lebih elegan dan bermartabat.

Sebagai realitas politik mahasiswa, tindakan Zaadit sesungguhnya menjadi angin segar bagi gerakan mahasiswa, yang belakangan kian melempem, mungkin, akibat persinggungannya dengan beragam kenyataan baru dalam kehidupan digital kita.

Artinya, Zaadit menyuguhkan kebangkitan gerakan mahasiswa, yang turut peduli terhadap nasib masa depan kebangsaan kita, betapapun misalnya, oleh sebagian orang tindakan Zaadit dianggap kurang etis.

Bagi mahasiswa lain, kenyataan ini mengingatkan kembali peran penting mahasiswa, sebagai agen of control terhadap kebijakan pemerintah yang tumpuan harapan dan masa depan kebangsaan kita.

Meski kini eranya sudah berbeda dengan masa Reformasi 1998, tak berarti cara-cara konvensional, seperti demonstrasi dan atau pertunjukan yang dilakukan oleh Zaadit, dianggap tak lagi relevan menjadi media untuk menyampaikan kritik. Karena faktanya, cara-cara konvensional tetap menjadi pusat perhatian publik, yang kemudian bisa ramai di media digital.

Sebab itu, menyampaikan kritik tak melulu lewat opini di media, namun juga harus diimbangi dengan tindakan konvensional berupa demonstrasi dan yang sejenis.

Hanya, tetap saja kesantunan dalam bertindak harus dikedepankan, supaya apa yang dilakukan oleh mahasiswa mendapat simpati yang lebih luas dari publik.

Karena kita percaya, mahasiswa memiliki idealisme dan semangat kerja keras yang nyata. Semoga saja kepercayaan ini tak basi!

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.