Generasi Milenial dalam Literasi

Zaman semakin maju, menjadikan persoalan manusia semakin kompleks. Alat komunikasi dan informasi yang kian maju, mengubah manusia modern menjadi manusia post modern. Manusia post modern dikenal sebagai makhluk yang ingin cepat, tepat dan akurat dalam menjalani kehidupannya. Hal ini dirasakan oleh manusia generasi milenial. Generasi milenial atau biasa disebut generasi “Y”, dikenal lahir antara tahun 1980 sampai 2000. Masih sedikit studi di Indonesia yang menyinggung generasi milenial, namun di beberapa negara, seperti Amerika sudah mengadakan riset mengenai generasi ini.

Riset yang dilakukan oleh Pew Researh Center di Amerika menemukan bahwa generasi milenial memiliki suatu keunikan dibanding generasi sebelumnya (generasi X). Perbedaannya terletak pada penggunaan teknologi dan budaya pop. Generasi milineal lebih cenderung membutuhkan teknologi, internet, dan hiburan dibandingkan makanan. Bahkan bisa juga dikatakan teknologi merupakan kebutuhan primer bagi generasi milenial, bukan lagi menjadi barang tersier seperti yang diajarkan ketika sekolah dasar dulu.

Bergeraknya teknologi yang semakin kompleks ditakutkan akan menjadi momok tersendiri dalam bidang literasi di Indonesia. Tidak perlu data konkret mengenai hal ini, silakan cek di sekitar lingkungan Anda, anak berumur 15-30 tahunan. Berapa banyak dari mereka yang mengahbiskan waktunya untuk bermain Mobile Legend atau sekadar internetan, dibandingkan yang membaca buku ketika menganggur?

Hal ini memang lumrah terjadi, pasalnya internetan merupakan ciri khas dari generasi milenial. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, mampukah generasi milineal bertahan dengan minimnya budaya literasi yang ada saat ini? Buku adalah jendela dunia, kini berganti dengan Instagram jendela alam semesta. Zaman dahulu berbincang di beranda rumah bersama kawan sangatlah asyik, namun kini chating di beranda Facebook jauh lebih menyenangkan. Bukan berarti menggunakan internet itu buruk, bukan berarti juga membaca buku secara konvensional berarti ketinggalan zaman. Dampak malasnya membaca buku, juga berdampak terhadap budaya menulis. Seandainya generasi milenial juga memiliki keunikan mengenai literasi, mungkin kekhawatiran ini akan sirna.

Berkaca pada para perjuang terdahulu, mulai dari Soekarno, Tan Malaka hingga Wiji Thukul memiliki karya berupa tulisan, hingga kini tulisan tersebut masih bisa dinikmati. Meminjam perkataan dari Imam Ghozali “Jika engkau bukan anak raja atau ulama besar maka menulislah”. Semoga generasi Milenial ini mampu mempertahankan tradisi literasi yang telah dilakukan para pendahulu negeri ini, sehingga tulisannya bisa dinikmati generasi selanjutnya.

M. Andre Bakhtiar Hasibuan

M. Andre Bakhtiar Hasibuan

Jurnalis LPM Solidaritas UIN Sunan Ampel Surabaya.