Hiperealitas Kasus Narkoba Artis

Di tengah ingar-bingar perbincangan politik menjelang pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019, publik dibuat geger oleh terungkapnya kasus narkoba yang melibatkan artis. Pasalnya, baru-baru ini, dua artis kondang Ibu Kota Jakarta, Fachri Albar dan Roro Fitria terjerat kasus hukum narkoba (14/2). Keduanya diciduk oleh aparat kepolisian setelah terbukti terlibat kasus penggunaan barang haram tersebut.

Bagi Fahcri, kasus penangkapan dirinya adalah pengulangan dari kasus terdahulu. Karena jauh seblumnya, Fachri sudah pernah tertangkap aparat kepolisian dalam kasus yang sama. Penangkapan Roro dan Fachri dalam kasus barang haram ini bukan saja telah menambah panjang daftar nama artis yang terlibat kasus narkoba, namun kian mempertegas realitas kehidupan artis yang penuh glamor.

Benar memang, bagi seorang pelaku hiburan yang memiliki gaji besar dengan jadwal job super padat, mereka memiliki keleluasaan untuk menjalani hidup yang serba mewah. Faktanya, hampir di seluruh penjuru dunia, kehidupan artis identik dengan kesenang-senangan. Bahkan, dapat mencipatakan dunianya sendiri dengan corak kebudayaan dan gaya hidup berbeda, bahkan melebihi dunia sesungguhnya.

Secara  sosiologis, keberadaan artis dengan segala sisi kehidupannya dapat digolongkan sebagai fenomena hiperealitas. Fenomena hiperealitas adalah suatu kebudayaan masyarakat yang hidup pada era postmodern. Sebuah era di mana status sosial tidak lagi murni dibentuk oleh kekuasaan dan materi (mode of production), seperti yang dinyatakan Karl Marx, melainkan oleh kekuatan dua nilai, yakni nilai simbol dan tanda. Dua nilai inilah yang paling dominan membentuk jati diri, sistem, dan struktul sosial masyarakat postmodern.

Bagi seorang artis, kecukupan materi (uang) bukan lagi simbol yang merepresentasikan kelas mereka. Uang akan menciptakan kelas dan status sosial mereka ketika disimbolkan dalam bentuk kesenangan dan keglamoran. Penggunaan narkotika bukan semata karena faktor kecanduan, apalagi murni kebutuhan (needness), namun lebih pada tuntutan gaya hidup, kesenang-senangan, dan foya-foya. Persisnya, setiap tindakan yang meraka ambil bukan dalam rangka  untuk memenuhi kebutuhan, tapi lebih pada memuaskan nafsu, sekadar memenuhi selera, keinginan, dan hasrat (desire) semata.

Dalam perspektif inilah, kehidupan artis yang identik dengan penggunaan narkoba dapat kita baca sebagai bagian dari fenomena hypereality. Yakni sebuah tatanan masyarakat yang senantiasa digerakkan oleh tanda dan simbol. Mereka adalah realitas artifisial, suatu realitas buatan yang dibentuk oleh citra, bukan berdasarkan fakta.

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.