Ibu Bukan Lagi Madrasah al-Ula

Kehadiran internet telah memerangkap seluruh masyarakat ke dalam dunia digital. Di kota maupun desa, semua orang bermain internet.

Kehadiran berbagai macam media social, menjadikan mereka terjangkit virus eksistensi berlebih. Merasa kudet (kurang update) jika belum punya akun medsos, ada yang kurang lengkap jika belum share aktivitas di status medsos, dan kesepian jika gadget tidak membunyikan notifikasi.

Kini, interaksi sosial dengan mudah telah diubah menjadi dialog interaktif yang dibangun dalam forum-forum maya atau private message.

Kemudahan mengakses informasi, kebebasan berjejaring, serta sensasi nyaman untuk berbincang, berkabar, berbagi, berpartisipasi, dan mengispirasi tanpa berjumpa dengan kerabat, sahabat ataupun orang baru, menjadi alasan mengapa mereka menjadi konsumen aktif media sosial.

Secara nyata, bergiat di media sosial seolah menjadi suatu hal yang wajib.

Perkembangan medsos hari ini sudah menjadi ladang berbisnis, media edukatif, serta sarana hiburan instan tanpa harus keluar rumah. Cukup dengan kuota yang memadai, maka segala kenikmatan berjejaring internet akan didapatkan.

Seperti bermain Youtube dan Instagram. Dari jutaan akun yang terdaftar, setiap detik selalu menawarkan video dan informasi terbaru. Penikmatnya tidak akan bosan dengan berbagai sajian yang menarik dan informatif.

Hebatnya, ponsel kini telah menjadi bagian dari human lifestyle. Banyak orang tua membiarkan anaknya memiliki dan menggunakan gadget sendiri.

Mindset masyarakat kita hari ini, membelikan anak mereka ponsel sendiri menjadi salah satu indikator kemakmuran orang tua (Arba’iyah Satriani, 2017).

Kemudian yang terjadi,  anak-anak menjadi bebas berselancar ke manapun yang diinginkan dalam dunia keduanya (maya).

Segala keingintahuan anak bisa terjawab secara instan hanya dengan menekan microphone button lalu mengucapkan apa yang ingin dicarinya. Dalam sepersekian detik, jutaan video akan tersaji. Anak-anak yang masih buta huruf pun dengan lihai berselancar ria di dalamnya.

Dampak buruk jangka panjangnya adalah mereka bakal kecanduan dengan dunia gawainya dan cenderung menjadi asosial.

Parahnya, kini anak anak lebih giat untuk bertanya kepada Youtube, Google, atau media informatif lainya dari pada ke ibu dan bapaknya sendiri. Alasan sederhananya, karena media tersebut lebih bisa menjawab segala hal dengan informasi yang lebih komplit dan visualisasi yang menarik.

Kenyataan yang lebih pilu adalah ibu-ibu yang berkarier lebih suka menjejali anak mereka dengan gawai, dalihnya supaya anak lebih nyaman di rumah.

Lebih parahnya, gawai telah menjadi media sukarela penimang anak saat menangis dan susah tidur.

Lalu, bukankah telah layak disebut jika ibu bukan lagi Madrasah al-Ula bagi buah hatinya?

Lamatut Durori

Lamatut Durori

Pendidik di Surabaya, lulusan Pendidkan Bahasa Inggris pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: lamatutdurori@gmail.com.