Jangan Main-main dengan La Nyalla Mattalitti!

Ketidakhadiran poros tengah dalam Pilgub Jatim, menyisakan banyak luka pada figur yang selama ini memiliki kehendak besar untuk bertarung dalam kontestasi lima tahunan di Jatim tersebut.

Kalkulasi yang matang tentu menjadi perhitungan cermat untuk mengambil keputusan membentuk poros baru dalam koalisi. Kalkulasi yang tak memungkinkan, mendesak Gerindra, PKS, dan PAN mengambil jalan aman dengan mendukung dua poros yang sudah ada sebelumnya. Gerindra dan PKS menyebrang ke Gus Ipul-Puti Guntur, sedangkan PAN ke poros Khofifah-Emil.

Mungkin sulit dibayangkan, bagaimana kemudian Gerindra akhirnya bergabung dengan poros Gus Ipul, yang dudukung oleh partai utama PDI-P. Secara politik Gerindra dan PDI-P sulit untuk berkoalisi, namun kondisi mendesak dan tidak memungkinkan mendorong Gerindra mengambil keputusan yang dulit dinyana sebelumnya.

Akhirnya, La Nyalla Mattalitti, kader penting Gerindra di Jatim didepak dari pencalonannya di Pilgub Jatim. Keputusan Gerindra tidak membuat poros baru mengubur kehendak besar La Nyalla untuk maju dalam Pilgub Jatim 2018. Padahal sebelumnya pamflet dan selebaran tentang pencalonan dirinya sudah ramai di dunia nyata dan maya.

Tak pelak, kehendak besar untuk bertarung dalam Pilgub Jatim yang tak perpenuhi, memaksa dirinya melawan orang besar di Gerindra, Prabowo Subianto. Sudah banyak berita dan video konfrensi pers La Nyalla, yang menghantam Prabowo dengan tikaman sangat keras.

La Nyalla membeberkan bahwa dirinya merasa diperas, belum ada kepastian pencalonan dirinya sebagai Cagub Jatim, namun sudah diminta uang Rp 40 miliar.

Kasus ini seperti membuka kembali lembaran hitam politik elektoral yang kita jalankan. Sebenarnya bukan hal baru soal uang mahar dalam pencalonan di pemilu. Namun, masih bertenggernya mental predator di kalangan elit politik, menarasikan bahwa perjuangan melawan pemberantasan korupsi masih sangat panjang. Selama politik melahirkan kekuasaan, maka selama itu pula praktik-praktik berkaitan dengan penumpukan kekayaan untuk diri dan kelompoknya masih akan terus ada.

Meski kenyataan yang sesungguhnya masih abu-abu, karena juga hadir pembelaan bahwa Prabowo dan Gerindra tidak mungkin melakukan hal tersebut. Keberanian La Nyalla menyampaikan apa yang katanya dialami dirinya mengukuhkan sosok La Nyalla sebagai orang yang sangat berani dan punya nyali besar.

Saya sendiri meyakini, La Nyalla tidak sedang memainkan panggung teater seperti sering dibayangkan Erving Goffman dalam teori Dramaturginya. La Nyalla memang ingin membuka kenyataan sesungguhnya, betapapun sangat berat karena harus melawan Prabowo. Namun kenyataan yang mendesak, memaksa La Nyalla menghatam balik Prabowo, seperti juga dilakukan Prabowo menghatam La Nyalla—menggagalkan pencalonan dirinya di Pilgub Jatim—dengan berbagung pada poros Gus Ipul-Puti Guntur.

Mungkin sudah kodratnya, La Nyalla, nama yang dalam bahasa Madura berarti mengusik atau mengganggu (baca: la-nyala). Hanya orang yang memiliki keberanian dan nyali besar yang berani mengusik-usik dan mengganggu orang lain. Genderang perlawanan La Nyalla kepada Prabowo menggambarkan keberaniannya yang besar. Maka jangan main-main dengan La Nyalla, kalau tidak ingin dimainkan pula. Sesepuh Madura selalu mengingatkan, jha’ la-nyala ka oreng laen, mon tak terro esala ana kea (jangan mengusik—menggangu orang lain, kalau tidak ingin diusik—diganggu orang lain).

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.