Kampus Asing, Berkah atau Ancaman?

Berita terkait kampus asing masuk Indonesia ramai satu minggu terakhir ini. Diawali oleh pernyataan Menristekdikti, Mohammad Nasir, tentang akan beroperasinya 5 sampai 10 kampus internasional di Indonesia, yang dimuat baik di media daring ataupun media cetak, yang kemudian tersebar cepat melalui media sosial. Beberapa kampus yang sudah menyatakan ketertarikan untuk beroperasi adalah University Cambridge dari Inggris serta University Melbourne dan University Quensland dari Australia.

Lantas, apakah keberadaan kampus asing ini akan mengancam kampus-kampus yang sudah berjalan selama ini?

Seperti yang diketahui bahwa kebijakan pemerintah ini merupakan implementasi dari kerjasama Indonesia dalam pelayanan jasa dengan dunia internasional yang disepakati pada masa pemerintahan SBY tahun 2005 silam. Sehingga kebijakan ini adalah lanjutan dari kesepekatan pada periode sebelumnya yang mengikat secara hukum kepada siapapun yang menjalankan roda pemerintahan di Indonesia.

Bagi kampus luar negeri, Indonesia merupakan pangsa pasar yang sangat besar. Usia produktif penduduk Indonesia yang harus kuliah sungguh melimpah. Direktur Jenderal Kelembagaan Kemristekdikti, Patdono Suwignjo, mengatakan saat ini Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi (PT) masih 31%, artinya adalah masih ada 69% yang belum tersentuh. Karena itu, dia berdalih kehadiran perguruan tinggi asing tidak akan mengurangi jumlah mahasiswa kampus-kampus di dalam negeri. Namun demikian angka ini tidak dapat dijadikan patokan untuk tidak mengikis keberadaan mahasiswa di PT Indonesia. Meski sangat mungkin kampus asing juga bakal kesulitan mendapatkan mahasiswa.

Terlepas dari itu semua. Kalau dipikir secara mendalam, kehadiran PT asing sesungguhnya akan mendatangkan keuntungan besar bagi Indonesia. Pemerintah akan terbantu dalam membangun sumber daya manusia karena diyakini kampus luar negeri mempunyai keunggulan dalam bidang pelayanan prima, pembelajaran yang unggul, dan bahkan prestise. Sehingga pemerintah terbantu dalam membangun manusia Indonesia.

Pemerintah mensyaratkan kampus asing yang akan beroperasi di Indonesia harus mempunyai partner. Mereka tidak bisa mendirikan dan menjalankan PT secara mandiri. Hal ini akan menguntungkan Indonesia untuk mengangkat rangking PT Indonesia di mata dunia internasional. Kalaupun ada persaingan menurut hemat saya justru setingkat kampus asing tersebut yang akan tersaingi. Hanya yang selevel sajalah yang akan mendapatkan pesaing.

Oleh karenanya, pernyataan bahwa keberadaan kampus asing nanti akan menjadi trigger kemajuan kampus di Indonesia patut diapresiasi. Selama PT yang ada menjaga mutu, baik dari dosennya, mahasiswanya, pelayanannya dan lain-lain, PT tersebut tetap akan mendapat tempat di hati masyarakat dan menjadi pilihan untuk mencari ilmu.

Muhammad Yunus

Muhammad Yunus

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang.