Kaos dan Tagar Politik

Belakangan pemberitaan media dipenuhi oleh tersebarnya kaos bertuliskan tagar (#) 2019 Ganti Presiden. Kaos dengan tagar bermuatan politis tersebut tersebar luas , khususnya di media sosial seperti facebook, twitter, dan sebagainya. Bahkan di beberapa kesempatan, kaos tersebut sudah beredar dalam bentuk komersial. Menariknya, ada banyak politisi menyebut, bahwa kaos tersebut diklaim sebagai gerakan dari masyarakat akar rumput, yang menghendaki pergantian presiden di Pemilu 2019 nanti.

Kaos dengan tagar (#) 2019 Ganti Presiden memiliki rupa sama dengan apa yang terjadi di Malaysia dan Thailand. Bahkan di Thailand, gerakan kaos merah berhasil menggulingkan Perdana Menteri Yingluck Shinawarta beserta jajaran menterinya. Yingluck yang pada saat itu dianggap gagal menjalankan pemerintahan Thailand, akhirnya harus lengser dari kekuasaannya setelah muncul desakan dari masyarakat luas yang saat itu menggunakan kaos merah sebagai simbol perlawanan.

Di Malaysia, meski tidak berhasil menimbulkan penggulingan kekuasaan seperti Thailand, gerakan massal yang bernamakan Kaos Kuning sempat melahirkan kekacauan dan mengganggu jalan pemerintahan setempat. Skandal korupsi 1 MDB yang diduga melibatkan Perdana Menteri negara setempat, Najib Razak, memicu munculnya pergerakan massa. Ratusan ribu massa Kaos Kuning dengan bertuliskan Gerakan Bersih tumpah ruah di sepanjang jalan Kuala Lumpur. Gerakan Bersih adalah simbol perlawanan mereka terhadap skandal korupsi yang diduga melibatkan Najib Razak.

Jika berkaca dari sekian gerakan kaos tersebut, jelas kemunculan kaos dengan tagar (#) 2019 Ganti Presiden, memiliki simbol muatan politis berkaitan dengan Pilpres dan Pemilu 2019 mendatang. Keberadaan kaos tersebut menyimpan manuver politik, khususnya dari kelompok oposisi, dalam upaya menandingi Jokowi. Jelas, ini adalah bagian dari langkah sistematis (strategi) untuk mengukur, menghimpun, atau bahkan memprovokasi masyarakat. Bukan tidak mungkin, jika gerakan kaos ini semakin menggunung, kekuatan Jokowi yang notabeni didukung banyak parpol akan dapat terkalahkan.

Dalam kaitan inilah, Jokowi sebagai petahana, jangan menganggap remeh gerakan kaos ini. Pernyataan Jokowi bahwa kaos tidak dapat mengganti presiden akan menjadi bumerang bagi dirinya. Gerakan kaos adalah gerakan sistematis dan struktur yang melibatkan elite politik. Bahkan, gerakan ini sudah bergerak cepat di ruang-ruang kosong dan pesan pribadi. Layaknya bola salju, jika pihak Jokowi beserta partai pendukunganya tidak segera bersikap sigap, maka bukan tidak mungkin kemuculan kaos dengan tagar (#) 2019 Ganti Presideni akan berbuah kenyataan.

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.