Kekerasan Tokoh Agama, Gila atau Gila-Gilaan?

Dalam buku berjudul, Madness and Civilization (1961), Michel Foucault memberi perhatian cukup menarik perihal fenomena kegilaan. Menurutnya, dalam masyarakat modern fenomena kegilaan bukan realitas tunggal yang melulu berkaitan dengan persoalan psikologis. Namun erat hubungnnya dengan masalah-masalah sosial yang bersentuhan langsung dengan kehidupan keseharian masyarakat.

Yang menarik adalah ketika Foucault menyebut kegilaan sebagai perwujudan dari episteme. Konsep episteme sendiri merujuk pada sekumpulan pernyataan yang dianggap sebagai sebuah kebenaran karena terlebih telah dahulu ditopang oleh unsur pengetahuan dan kekuasaan. Persisnya, dalam era modern seperti sekarang, fenomena kegilaan lebih merupakan perwujudan dari praktik kekuasaan dan pengetahuan yang sengaja diproduksi, bahkan oleh rezim kekuasaan tertentu.

Pada masanya, tulisan Foucault di atas mengundang kegegeran di kalangan ilmuwan, bukan saja karena kajian yang terkesan nyeleneh, melainkan sikapnya yang seolah mempertengtangkan keilmuan medis. Sepintas sulit untuk dapat membenarkan tesis Foucault di atas, karena dianggap tak mendasar, dan terkesan mengada-ngada. Namun seiring waktu, puncaknya ketika dirinya melakukan kajian cukup mendalam tentang fenomena kegilaan di banyak tempat, khususnya di negeranya, Prancis, Foucault berhasil membuktikan tesisnya secara ilmiah.

Dalam konteks kebangsaan kita, term kegilaan belakangan ini begitu santer di ruang publik. Pasalnya, dalam beberapa hari terakhir ini terjadi banyak aksi kekerasan, penyerangan, dan pemukulan terhadap tokoh-tokoh agama yang melibatkan orang gila sebagai pelaku. Dalam pandangan kritis, rasa-rasanya sulit bagi akal sehat untuk membenarkannya. Apalagi, peristiwa tersebut terjadi bukan di satu tempat saja, melainkan terjadi di banyak daerah.

Sampai di sini, menjadi suatu yang menarik kemudian untuk mengaitkan fenomena kegilaan di Indonesia belakangan ini dengan tesis kegilaan yang dilontarkan oleh Foucault. Bahwa sejatinya, hingga detik ini kita tidak tahu persis apakah pelaku kekerasan terhadap para tokoh agama adalah betul-betul orang gila yang mengalami masalah mentalitas dan pikiran, seperti yang selama ini diberitakan di banyak media. Atau, jangan-jangan wacana kegilaan yang diidentifikasi kepada para pelaku adalah term yang sengaja dibangun oleh kelompok-kelompok tertentu untuk membuat kasus ini menjadi kabur dan kehilangan jejaknya?

Dalam alam demokratis, tak ada salahnya kita memunculkan pertanyaan di atas. Apalagi, dalam banyak kasus yang terjadi, kekerasan yang melibatkan “orang gila” lebih banyak beroperasi di kelompok atau golongan tertentu saja. Satu-satunya jalan  menjawab pertanyaan ini adalah dengan membongkar fenomena tersebut hingga ke akar-akarnya. Kekerasan yang melibatkan “orang gila” tersebut harus diproses secara transparan, dan melibatkan lembaga, kelompok, dan ormas yang menjadi korbannya.

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.