Kementerian Agama atau Kementerian Islam?

Kementerian Agama (Kemenag), yang dulu saat berdiri pada 3 Januari 1946 bernama Departemen Agama (Depag), pada 3 Januari 2018 ini telah berusia 72 tahun. Dalam pendakian panjang perjalannya, banyak hal tak biasa hadir. Termasuk egoisme sebagian kelompok Islam sebagai agama mayoritas yang ingin mengeksploitasi kementrian yang mengurusi urusan agama ini.

Tak jauh pada usia genap Kemenag yang ke-72, Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, sebagai orang nomer satu pada kementerian ini, pernah disindir nyinyir oleh seorang ustad yang berorasi pada Reuni 212 Desember lalu.

Video cercaan kepada Menag ini banyak beredar di Youtube. Sang ustad mengungkapkan kekecewaannya, lantaran Menag tidak hadir pada acara yang dihadiri jutaan umat Islam—setidaknya klaim alumni 212—sementara pada acara LGBT yang segelintir orang sambil nangis-nangis Menag datang.

Tak hanya selesai pada Reuni 212. Menag kita, sebagai orang yang dipercaya mengurusi segala hal tentang agama di Indonesia, diolok-olok oleh peserta aksi ketika menghadiri acara Aksi Bela Palestina pada 17 Desember lalu, yang mayoritas pesertanya adalah alumni 212.

Saya tak dapat menerka apa sesungguhnya yang dikehendaki oleh alumni 212. Bayangan saya, barangkali Menag diminta mendukung seluruh aksi-aksi mereka, yang pada bagian tertentu menyudutkan penganut agama lain di Indonesia.

Kasus penistaan agama yang terjadi pada Ahok adalah salah satu catatan kelam keberagamaan kita setelah reformasi. Betapa tidak. Opini digiring sedemikian rupa untuk menjungkalkan martabat seseorang, yang pada bagian lain sesungguhnya erat kaitannya dengan kepentingan politik.

Saya melihat sikap Menag yang netral, menggambarkan statusnya sebagai seorang Menteri Agama, yang mengurusi seluruh urusan agama-agama di Indonesia. Karena itu, kalau Menag hadir pada acara Reuni 212 yang sangat politis, menggambarkan bahwa Menag tak bisa berdiri tegak di atas keragaman.

Meskipun Islam besar, kita tak boleh mengandaikan Kemenag akan menjadi Kementerian Islam. Karena dengan demikian, kita telah mendustai semangat awal dibentuknya Kemenag, yang memiliki komitmen merangkul semua penganut agama di Indonesia yang beragam.

Selamat Ulang Tahun ke-72 Kemenag RI.

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.