Kencing Unta dan Cara Tepat Memahami Hadis


Oleh Muhammad Ali Murtadlo*)

Ulama klasik terbagi menjadi dua kelompok, ahli ra’yu dan ahli atsar. Kelompok pertama merupakan ulama yang mengandalkan rasionalitas dalam membaca sebuah dalil. Sedangkan kelompok berikutnya adalah mereka yang berpegangteguh kepada teks dalil. Sehingga dalam pengambilan keputusan hukum, kerap kali terjadi perbedaan.

Dalam memaknai sebuah hadis Rasulullah SAW. misalnya, ulama tak melakukannya secara serampangan. Itulah mengapa muncul ilmu Mustolahul Hadis (ilmu untuk mengkritik sebuah hadis). Kritik terhadap hadis sangat perlu, untuk mengecek kebenarannya, baik dari segi sanad (perawi) maupun matan (bunyi lafadz hadis).

Jika sudah diketahui kualitas sebuah hadis, tak lantas bisa diamalkan secara tekstual. Mereka perlu membandingkan dengan hadis serupa dari riwayat yang lain. Pun ketika telah berstatus kuat, bahwa hadis tersebut benar-benar berasal dari nabi, perlu dilakukan kontekstualisasi agar sesuai dengan keadaan dan tuntutan zaman. Itu semua dilakukan bukan dalam rangka meragukan hadis nabi, melainkan untuk hati-hati karena maraknya hadis palsu demi kepentingan tertentu pada zaman itu.

Hadis mengenai kencing unta misalnya, harus kita cek dahulu kebenarannya, melalui siapa perawinya dan dalam konteks apa hadis itu muncul. Sehingga kita tidak serampangan mengamalkan sebuah hadis. Apalagi, hanya karena seruan seorang ustad yang kita kagumi melalui media sosial, lalu secara taklid buta kita mengikutinya.

Hadis tentang kencing unta meskipun terdapat dalam Sahih Bukhari, Ibnu Hibban, Musnad Ahmad, dan Sunan Turmudzi, merupakan hadis ahad (individual) yang periwayatannya bersandar pada satu orang saja pada salah satu tingkatnya.

Selain itu, kita perlu melihat hadis ini dari segi budaya zaman nabi sampai pada era pengumpul hadis. Saat itu ilmu pengetahuan belum berkembang hingga merambah ranah penelitian tentang pengobatan yang melibatkan ilmu kimia, biologi, maupun ilmu lain yang terkait. Sedangkan saat ini, penelitian itu sangat mungkin terjadi.

Dalam hal ini, saya sepakat dengan Prof. Muhammad Machasin. Beliau mengatakan dalam akun facebooknya, bahwa kita perlu menggunakan nalar bayani. Meskipun kita meyakini bahwa apa yang bersumber pada teks adalah kebenaran, harus dilengkapi dengan penelitian yang dapat membuktikan bahwa kencing unta dapat dijadikan obat.

Sebagai orang awam, lantas kita ikut yang mana? Menelan mentah-mentah atau berusaha mencari suatu kebenaran sedalam-dalamnya?

*)MUHAMMAD ALI MURTADLO, awardee LPDP Kemenkeu RI pada Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Email: aldo.murtadlo@gmail.com.

kotakata.id

kotakata.id

Redaksi kotakata.id: portal analisis isu-isu aktual, populer, dan krusial.