Kesalahpahaman tentang Perdagangan Internasional

Meski di era globalisasi, ternyata masih ada sebagian orang yang tidak yakin dengan keuntungan negara dalam perdagangan internasional. Lihat bagaimana dulu respons beberapa pihak ketika Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai berlaku pada 31 Desember 2015 yang lalu. Sampai sekarang pun, masih ada yang pesimistis dengan model perdagangan internasional tersebut.

Pada konteks ini, efeknya akan lebih buruk jika menyebabkan tidak stabilnya ekonomi dan politik di suatu negara, karena adanya protes supaya negara menghindari persaingan perdagangan global.

Sesungguhnya, hal tersebut bukan tanpa alasan, mereka menganggap bahwa perdagangan internasional, terutama dalam perdagangan bebas, bermanfaat hanya jika negara cukup kuat untuk berdiri dalam kompetisi asing. Tetapi jika berpikir lebih mendalam, pandangan itu hanyalah sebuah asumsi tanpa alasan yang kuat, atau dalam perspektif logika disebut fallacy.

Pernyataan tentang perdagangan internasional bermanfaat hanya jika negara cukup kuat untuk berdiri dalam kompetisi asing, mendapatkan masalah ketika menghadapi beberapa konteks. Meskipun argumen ini sebenarnya didukung oleh pandangan komentator-komentator, yang menyebutkan bahwa negara mungkin tidak memiliki apa-apa untuk menghasilkan sesuatu supaya mampu bersaing dalam perdagangan internasional, karena produk yang tidak memenuhi syarat, tidak siap sumber daya manusia, dan bentuk kekurangsiapan lainnya.

Dari hal tersebut berarti, warga suatu negara hanya akan memiliki peran sebagai konsumen. Secara otomatis, ini akan menjadi kerugian bagi negara. Dengan mengikuti cara ini tampaknya luar biasa masuk akal, tapi ada logika yang tidak valid.

Pada kenyataannya, faktor situasi mendorong untuk melakukan perdagangan internasional supaya mendapatkan keuntungan lebih. Sebagai contoh, negara tidak bisa menghasilkan sesuatu yang murah atau efisien dari pada di tempat lain—tidak ada solusi, kecuali terus-menerus memotong biaya tenaga kerja? Sangat sulit untuk mempertimbangkan hal ini, karena akan memunculkan gejolak dari para pekerja.

Kemudian, menurut dari Ricardo’s model (Krugman dkk, 2012), keuntungan dari perdagangan internasional sebenarnya tergantung pada keunggulan komparatif dari pada mutlak. David Ricardo menyatakan bahwa, bahkan sebuah negara yang memiliki kelemahan mutlak sekalipun—negara yang tidak kuat, kehadiran perdagangan internasional tetap akan memberikan keuntungan satu sama lain, jika negara membuat spesialisasi dalam memproduksi barang yang memiliki biaya relatif  kurang dari negara lain.

Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi, setidaknya itu bisa menggambarkan bahwa semua negara-bangsa memiliki kesempatan untuk memperoleh manfaat  dari perdagangan internasional. Selain itu, perdagangan internasional tidak diciptakan guna melukai suatu negara tertentu. Secara primordial, perdagangan bisa terjadi karena satu sama lain saling membutuhkan (baca: keuntungan), dengan adanya penawaran dan permintaan.

Setyo Pamuji

Setyo Pamuji

Lulusan Master of Business Administration (MBA) Central China Normal University, Tiongkok. Email: setyopamuji@mails.ccnu.edu.cn.