Keseronokan Tahun Baru

Andai warga jiran kita tak menyebut kata seronok sebagai kesenangan (pleasure), mungkin warga Indonesia akan memahami kata ini sebagai lema yang bermakna dekat dengan senonoh. Tak pelak, sebutan ini riskan diungkapkan dalam pelbagai kesempatan baik secara lisan maupun tulisan. Namun, pengulangan dalam percakapan serial Upin Ipin tentu menggoyahkan makna yang terlanjur melekat di benak orang ramai. Padahal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, lema tersebut berarti menyenangkan hati dan sedap dilihat atau didengar. Pelik, bukan?

Di benak rakyat tetangga, kata seronok mempunyai arti sama dengan kesenangan, seperti mata seorang anak kecil yang berbinar karena mendapatkan hadiah atau orang dewasa yang gembira karena baru mendapatkan lotere atau mendengar lagu Rhoma Irama. Pendek kata, kesenangan adalah sensasi jasmani yang dialami oleh individu sebagai lawan dari penderitaan (pain). Apapun kata untuk menggambarkan hal yang menyenangkan ia membayangkan hubungan penanda (signifier) berupa huruf atau simbol dan petanda (signified) yang ditandai atau yang dikonsepkan, yang mungkin abstrak atau konkret.

Lalu, adakah kesenangan itu baik? Menurut Aristoteles dalam Nichomachean Ethic, kenikmatan itu adalah baik. Malah, kebaikan utama (virtue) disebut sebagai sejenis kenikmatan. Sebagai lawannya, penderitaan adalah sensasi jasmani tertentu maupun pengalaman yang tidak diinginkan. Dua istilah kunci ini, kenikmatan dan penderitaan adalah pengukur bagi tindakan manusia, sebagaimana diungkapkan oleh seorang tokoh utilitarian, Jeremy Bentham dilihat sebagai tuan yang berdaulat. Dengan demikian, orang akan memburu kesenangan untuk mendapatkan kenikmatan.

Persoalannya, kenikmatan apa yang perlu diraih? Aristoteles dan Mill menjawab lugas, “Yang baik”. Di sini, pandangan filsuf tersebut berbeda dengan kaum Hedonis, yang melihat kenikmatan itu hanya sensasi jasmani semata-mata. Bagi penikmat arak, sensasi air keras itu mendatangkan kenikmatan, tetapi kebahagiaan yang hanya dihitung dalam waktu tertentu dan pendek, menghilangkan perkiraan yang disebut Bentham dengan kalkulus hedonistik. Konsekuensi menjadi variabel lain yang perlu ditimbang, terkait durasi dan akibat pada masa yang akan datang. Jika alkohol hanya menjadi pelarian dan menghilangkan keruwetan hidup, maka pemabuk akan terjerat dan tak bisa keluar dari ketagihan.

Sejatinya, pengaruh arak sama dengan kenikmatan makanan, seks, dan rokok dalam mengaktifikan sirkuit kesenangan dalam saraf. Namun, Bentham menawarkan bahwa kesenangan mesti menimbang akibat dalam jangka panjang, sehingga kebiasaan ini perlu diperiksa secara kritis. Pengalaman Jeff Tweedy layak ditimbang. Setelah berhasil menjalani rehabilitasi akibat ketergantungan pada obat terlarang, ia sadar bahwa olahraga bisa mengaktifikan litar kesenangan. Kegiatan ini juga bisa mengakibatkan ketagihan sebagaimana nikotin dan orgasme. Hanya saja, aktivitas tersebut mempunyai kelebihan, seperti perbaikan fungsi-fungsi kardiovaskular, paru-paru dan sistem kelenjar endokrin.

Hakikatnya, dari nama minuman keras, siapapun tak perlu berpikir secara mendalam bahwa jenis cairan ini akan melakukan kekerasan pada tubuh. Aneh, jika pelaku berkoar-koar tentang pembelaan terhadap kemanusiaan, sementara pada badannya sendiri tega menyakiti. Padahal, kenikmatan itu terkait dengan la durée, durasi, dalam bahasa Henry Bergson, yang membayangkan rentang hidup manusia, bukan sekejap ketika ia melayang karena mabuk. Jadi, tahun baru sepatutnya tidak dirayakan hanya pada permulaan almanak dengan larut dalam kemabukan, tetapi ia membayangkan komitmen sepanjang tahun.

Ahmad Sahidah

Ahmad Sahidah

Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia.