Khofifah dan Peluang Kemenangannya

Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Begitu kira-kira adagium yang ingin penulis sampaikan untuk menggambarkan sosok Khofifah. Meski pernah mengalami kegagalan dalam pilgub sebelumnya, tapi tekad dan niat yang tulus membuat Khofifah harus maju kembali pada bursa Pilgub Jatim 2018 ini. Kegagalan Khofifah dua kali berturut-turut menjadi Gubernur Jatim, cukup menjadi pengalaman pahit sepanjang kariernya di dunia politik. Khofifah kalah dua periode dari lawan politiknya, Soekarwo.

Kontestasi pemelihan gubernur ini menarik bagi Khofifah, setelah sebelumnya mengalami kekalahan beruntun. Memutuskan kembali untuk mengikuti pertarungan Pilgub 2018 tentu  sudah memiliki perkiraan tersendiri tentang kemenanganya, baik secara personal maupun dari kelompok pendukungnya, seperti partai politik, kiai, ataupun tokoh masyarakat.

Secara pengalaman politik Khofifah tidak dapat diragukan lagi. Berbagai macam jabatan di pemerintahan sudah biasa dia duduki. Hanya, komitmennya untuk menjadi orang nomer satu di Jatim tak pernah padam. Sehingga dia rela melepaskan jabatan strategisnya sebagai Menteri Sosial di Kabinet Kerja Jokowi-JK, yang ruang lingkupnya sangat luas sekali, berdeda dengan menjadi gubernur yang hanya sebatas lingkup provinsi.

Pencalonan seorang sosok perempuan mantan menteri ini dalam Pilgub Jatim menjadi pertanda baik bagi keterwakilan perempuan. Jabatan sebagai Ketua Umum Muslimat NU, cukup menjadi modal awal untuk dirinya maju dalam Pilgub Jatim. Secara emosional Khofifah memiliki hubungan yang diunggulkan di kalangan Muslimat NU, ini kemudian menjadi daya tarik sendiri bagi dirinya, melihat daerah pemilihannya adalah basis NU.

Sebagai pemain lama Khofifah tentu memiliki segudang strategi politik yang akan dilakukan untuk memenangkan Piligub Jatim 27 Juni nanti. Kesalahan-kesalahan sebelumnya semaksimal mungkin harus bisa diatasi dengan baik, dan yang perlu diwaspadai di sini adalah persaingan politik yang tidak sehat. Misalnya, ada kecurangan hak suara, politik uang, dan kampanye-kampanye yang menjatuhkan satu sama lain.

Masyarakat Jatim tentu memiliki pilihan politik tersediri, perempuan khususnya dengan jumlah prosentase yang cukup besar. Khofifah merupakan calon yang akan menjadi pertimbangan utama bagi perempuan. Pandangan masyarakat tentang karier politik, kompetensi akademik dan prestasi, baik sekala nasional maupun internasional diakui sebagai indikator keberhasilan kepemimpinan oleh masyarkat dewasa ini.

Pada titik ini, Khofifah berpeluang besar memenangkan kontestasi Pilgub Jatim.

Fawaid

Fawaid

Mahasiswa Politik Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya.