Kompleksitas Manusia Masa Kini

Sejak mendengungnya isu Globalization Era, ASEAN Economic Community Era, dan World Free Trade Era, setiap orang berlomba menjadikan dirinya pesaing tangguh untuk kompleksitas tuntutan dunia.

Setiap orang berusaha meng-upgrade rutinitas dan aktivitasnya supaya dapat bersanding sejajar dengan gesitnya ritme perubahan zaman. Mereka terjerat dalam jejaring kemajuan budaya masa kini, melebur dalam denyut peradabannya, dan giat berupaya mengejar target-target kesejahteraan duniawi yang ingin diraih.

Di zaman yang menawarkan segala hal instan dalam dunia yang lebih luas, manusia dituntut menjadi pribadi yang semakin lincah tanpa batas, siap untuk apapun, kapan pun, dan dalam kondisi bagaimanapun. Keresahan dan hal-hal sepele yang tak terpresdiksi (unpredictable) sering dipandang sebagai peluang peningkatan kesejahteraan.

Lihat saja, saat hujan tiba, entah dari mana datangnya, berduyun-duyun para pengojek payung menawarkan jasanya. Ketidakpastian masa turun hujan telah dijadikan sebagai salah satu penambah jalan rezeki. Ingin belanja tapi pergi ke pasar dianggap riweh dan menyita banyak waktu, para pengejar kesejahteraan melihatnya sebagai peluang bisnis, lalu lahirlah portal perbelanjaan online. Manusia hari ini bisa berbelanja di mana saja kapan saja, sambil melakukan apa saja.

Saat ingin berpergian tapi malas menyetir mobil sendiri atau malas berpanas-panas menunggu moikrolet di tepi jalan, telah tersedia ojek online, sekali klik “order” di celah sebelah manapun rumah Anda, mereka bersedia menjemputnya. Sedang lapar tetapi malas keluar rumah, ada jasa food delivery. Mau kirim barang tapi tidak punya waktu untuk sekadar ke pos pengiriman, ada online send.

Begitupun untuk belajar, hari ini telah banyak portal yang menawarkan pembelajaran secara online, dengan harga yang beragam dan waktu yang fleksibel. Online learning kini menjadi pilihan jitu dan jalan yang mempermudah interaksi guru dari belahan dunia manapun dengan murid mayanya. Mungkin ini pemutakhiran dari konsep education is everywhere, mereka tidak harus bertemu untuk berinteraksi.

Manusia kini hidup pada dimensi tanpa batas. Segala hal di dunia terlihat simpel dan serba instan. Manusia dituntut untuk berpikir beyond imagination. Pandai-pandai menangkap peluang dan menjadi fleksibel adalah kunci utama kesejahteraan finansial.

Sekarang manusia bisa menikmati segala hal hanya dengan berkomunikasi via online. Segala yang diinginkan secara instan akan hadir. Bukankah keinstanan telah menjadikan manusia cenderung melupakan etika kamunikasi langsung? Bayangkan saja, hari ini, pemberian bintang 5 telah menjadi apresiasi yang lebih penting dari pada ungkapan terima kasih, karena koleksi 5 bintang akan mendatangkan tambahan kesejahteraan bagi penyedia jasa.

Singkatnya, budaya dan pola pikir manusia masa kini semakin berkembang dan cenderung bergeser. Esensi budaya dalam masyarakat mencerminkan identitas atau etnisitasnya yang mengacu pada tata cara kehidupan bermasyarakat, mencakup etika (sopan santun), norma-norma perilaku, ideologi, pandangan dunia, filosofi kehidupan, pakaian, bahasa, makanan, dll (Ika Yunia Fauzia, 2009).

Dalam ranah persesuaian sistematis terhadap arus manusia global, identitas keindonesiaan kita sedang dalam kondisi kritis (diuji). Citra Indonesia dengan masyarakatnya yang ramah, sumeh, menjunjung tinggi kesopanan dan kepedulian terhadap sesama. Dalam perkembangannya, kini pola pikir manusianya telah bergeser, sudah tidak ada bedanya antara yang peduli dan sok ingin tahu, keduanaya dianggap kepo. Memuji atau membicarakan kebaikan orang lain untuk memotivasi diri dan gosipin orang cenderung dianggap rumpi dan julid. Selalu tampil sopan dan ramah kepada setiap orang di manapun kapanpun kini telah dianggap lebay.

Bukankah sudah seharusnya manusia masa kini lebih pandai mengelaborasi keresahannya dalam perhitungan yang kompleks, sebagai upaya menangkap peluang dan mengeksplorasinya tanpa menafikan identitas bangsanya.

Lamatut Durori

Lamatut Durori

Pendidik di Surabaya, lulusan Pendidkan Bahasa Inggris pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: lamatutdurori@gmail.com.