Konsep Pendidikan Mohammad Sjafei

Pendidikan kita hari ini seperti kehilangan rujukan. Selain sering terpaku pada negara-negara Barat, kita sering bermental inlander. Kita sering terpaku pada rangking-rangking lembaga survei pendidikan internasional.

Seolah kita selalu dinilai gagal dalam indeks pembangunan, indeks melek literasi sampai dengan kualitas pendidikan kita. Padahal sebenarnya, kita sudah memiliki konsep pendidikan nasional serta tokoh-tokohnya yang memiliki pandangan khas sesuai dengan keadaan kita.

Kita menengok ke India, Tagore dulu pernah berkunjung ke Indonesia, terutama Taman Siswa, dan memberi pengakuan mengejutkan bahwa tari, dan juga seni di Indonesia diterapkan dalam konsep sekolah di Santiniketan. Kita bisa melihat ini di buku kumpulan tulisan bertajuk Kebudayaan(1994) karangan Ki Hajar Dewantara.

Kita terlampau terpukau dengan Amerika, sedangkan para Indonesianis di Universitas Cornell habis-habisan meneliti Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya. Kita sibuk mencari kurikulum mana yang cocok untuk Indonesia, sementara kita menghamba pada para pendonor dana pendidikan kita.

Keadaan ini mengingatkan kita pada salah satu tokoh pendidikan dari Sumatera. Namanya Mohammad Sjafei. Ia dikenal sebagai pendiri INS Kayu Tanam.

Lalu, bagaimana sebenarnya konsep perjuangan dan cita-citanya dalam pendidikan?

AA. Navis menulis di Majalah Prisma Edisi April tahun 1987. Ia menulis pandangan pendidikan Mohammad Sjafei tak terlepas dari pemikiran Ayahnya. Ia semula seorang yang diangkat sebagai anak oleh bapak angkatnya yang bernama Mara Sutan.

Berkat Mara Sutan inilah, Sjafei bisa belajar di Belanda dan mengambil konsep pendidikan yang cocok dengan Indonesia. Salah satu konsep pendidikan Sjafei adalah pendidikan harus berorientasi kepada harkat bangsa dengan bangsa lain di tingkatan internasional (Surat Kabar Neratja, Maret 1922).

Dalam konsep kebudayaan, ia menilai kebudayaan adalah sesuatu yang bersifat kreatif, individual, dan sosial. Praktik itu bisa dilihat saat Sjafei membiarkan murid menciptakan apa yang mereka mau dan mampu bukan yang harus mereka lakukan.

Konsep ini sama dengan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Bahwa pendidikan hendaknya membebaskan keinginan anak sesuai dengan natur dan kulturnya.

Inilah sedikit uraian tentang konsep pendidikan Mohammad Sjafei. Sering pendidikan kita berbau kebijakan dari atas. Bukan dari apa yang dimau oleh sekolah di setiap daerah.

Pendidikan kita masih merasa inlander dan merendah. Padahal, ini tak sesuai dengan cita-cita yang dibangun oleh perintis pendidikan nasional kita, seperti Ki Hajar Dewantara dan Mohammad Sjafei, yakni mandiri dan setara dengan bangsa lain.

Arif Yudistira

Arif Yudistira

Pendidik di SMK Kesehatan Citra Medika, pernah mengajar di MIM PK Kartasura. Email: arif_love_cinta@yahoo.co.id