Koruptor Tak Lagi Licin!

Kesaktian Setya Novanto berkali-kali dapat lepas dari jeratan hukum KPK, membuat dirinya disebut-sebut mampu menyangkal pribahasa, sepandai-pandai tupai melompat, pada akhirnya akan jatuh juga.

Hanya, nyatanya tak demikian juga. Akhirnya Novanto, terjatuh juga dengan tertabrak pada tiang. Orang menganggapnya sebagai drama. Pola yang dibuat untuk mengelabui publik dan penegak hukum. Sehingga ujungnya, tiang sebagaimana maknanya, yang berdiri tegak meninggi, dapat menghalangi Novanto untuk lari dari jeratan hukum KPK.

Di sini, pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, pada akhirnya akan jatuh juga, benar adanya. Sekali, dua kali, tiga kali mungkin bisa lepas, namun kalau terus berkali-kali, pada akhirnya akan terlampaui (terhalangi oleh tiang dalam kasus Novanto). Begitupun dengan serangkaian kasus korupsi yang baru-baru ini kembali diungkap oleh KPK.

Setidaknya, dalam sebulan terakhir, KPK telah menangkap Mustafa Bupati Lampung Tengah Lampung, Imas Aryuningsih Bupati Subang Jabar, Marianus Sae Bupati Ngada NTT, dan Nyono S Wihandoko Bupati Jombang Jatim. Kesemua nama yang disebut adalah peserta pilkada serentak 2018 (Kompas, 17/2). Tersangka korupsi lain pada bulan ini, yang bukan peserta pilkada, adalah Gubernur Jambi, Zumbi Zola.

Melihat kenyataan ini, apa yang ingin Anda sampaikan? Mungkin kita dapat berkomentar, koruptor sekarang tak lagi licin. KPK sangat ganas. Meski pandai melompat, akhirnya pasti akan jatuh. Novanto adalah contohnya. Kenyataan ini menjadi peringatan penting bagi para kandidat pemimpin kepala daerah yang bertarung pada 27 Juni mendatang. Kepemimpinan yang tak dijalankan dengan intgeritas, pada akhirnya akan menemukan jurang ketenggelamannya. Kasus penagkapan peserta pilkada adalah contohnya. Belum apa-apa—meski sudah apa-apa (sebab incumbent), sudah ditangkap duluan.

Sekarang kita hidup di era keterbukaan. Semua sudah harus transparan. Kepemimpinan ibarat sekam, kalau ada api yang disimpan di dalamnya, pada akhirnya akan membakar dirinya sendiri.

Karenanya, siapapun yang terpilih pada Pilkada 2018, harus mampu menghadirkan kepemimpinan yang berintegritas. Tanpanya, ia hanya akan hidup dalam sekam. Sekali api di dalamnya membesar, dalam sekejap bisa hangus segala jabatan dirinya.

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.