Kota Kata, Kota Agama

Indonesia adalah negeri yang di dalamnya berbagai etnis, bahasa, dan agama hidup berdampingan.

Sebagai negara besar yang memiliki keberagaman. Maka, sudah selayaknya Indonesia menjadi kota yang damai bagi seluruh pemeluk agama. Indonesia dibangun bukan untuk satu komunitas, agama, atau etnis tertentu. Indonesia dibangun untuk merajut kebinekaan. Semboyan kita satu, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Nah, bagaimana agar Indonesia menjadi kota agama yang ideal?

Mari kita tengok kembali. Bagaimana kita seharusnya menfungsikan pancasila sebagai semangat untuk merangkul dan menyatukan kelompok-kelompok berbeda itu, menyatu dan saling berbagi tempat dan peran dalam rangka menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Banyak ekspresi untuk menyuarakan harapan kebersamaan itu. Tak percaya, mari kita lihat bagaimana kemunculan parade Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana ditulis Ahmad Nurcholish, dalam buku, “Merajut Damai dalam Kebinekaan”. Ribuan masyarakat dari berbagai elemen di Jakarta dan sekitarnya pada 19 November 2016 tumpah ruah ke jalan untuk menandaskan bahwa kerinduan untuk hidup harmoni dalam keberagaman masih menjadi impian banyak orang.

Kota agama yang ideal sejatinya harus hadir di berbagai daerah di negeri ini. Tempat bagi masyarakat untuk hidup berdampingan dan saling memahami dalam menjalankan amalan ibadah sesuai kepercayaannya.

Indonesia sejatinya sudah menjadi kota agama yang ideal. Namun, belakangan wajah Indonesia terus menerus tercoreng dengan masifnya kelompok-kelompok intoleran yang lebih memetingkan kepentingan dan kebutuhan kelompoknya sendiri.

Jauh sebelum negeri ini merdeka. Presiden Soekarno menyatakan bila pendirian Indonesia merupakan kebutuhan seluruh komponen bangsa dan setiap orang berhak untuk memperjuangkan kepentingannya, termasuk dalam hal agama (Ahmad Nurcholis, 2017)

Oleh sebab itu, upaya menjadikan Indonesia sebagai kota agama yang ideal sudah seharusnya dikembalikan pada tujuan dan fungsi negara ini dibentuk. Negara ini diharapkan para pendiri bangsa sebagai sebuah kerangka “universal” menyangkut berbagai sistem nilai yang partikular, termasuk agama.

Namun, upaya itu akan sia-sia bila setiap pemeluk agama di negeri ini masih dengan keras kepala mengklaim bila tujuan negara ini untuk golongan tertentu. Padahal, pasal 28E UUD menyatakan menjamin hak setiap orang bebas memeluk dan beribadah menurut agamanya.

Haruskah kita sibuk saling menyinggung perasaan pemeluk agama yang berbeda dengan keyakinan kita sendiri?

Fendi Chovi

Fendi Chovi

Blogger, aktivis multikulturalisme, dan alumnus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan. Email: fendichovi@gmail.com.