Kota Kata, Kota Budaya

Berbicara kota budaya secara kausalitas tidak lepas dari jati diri sebuah kota itu sendiri. Jati diri itu berkaitan dengan kemampuan masyarakat memaknai dan memahami arti peninggalan sejarah.

Menjaga eksistensi tradisi dan keutuhan budaya, pada zaman yang sangat cepat perubahannya sekarang ini, bukanlah perkara yang mudah di setiap kota. Buktinya, tidak sedikit kota-kota besar di negeri kita mulai terkikis akar kebudayaan dan tradisinya. Hal itu terjadi karena manusia memiliki kegiatan yang beragam, sejalan dengan fasilitas-fasilitas perkotaan yang ada, di mana kemajuan teknologi merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada kegiatan budaya masyarakat kota.

Setiap kota memiliki potensi budaya yang berbeda. Hal itu dikarenakan latar belakang historikal, kultural, dan fisikal yang saling berkaitan, yang secara bersamaan memberikan corak khas terhadap kebudayaan masing-masing kota.

Kekuatan kebudayaan yang melekat di dalam tubuh sebuah kota akan mewarnai corak keunikan georafis dan kultur sosial. Maka dari itulah, kota yang berbudaya menggambarkan gaya hidup sehari-hari dan pola hubungan antar masyarakat terhadap kondisi setempat. Kota yang menjadi impian sebuah masyarakat di satu pihak selalu berkaitan dengan sistem nilai yang berlaku pada saat ini, dan di lain pihak sangat erat terkait dengan masalah yang dihadapi oleh masyarakat pada saat ini pula.

Pada masa revolusi industri abad ke-19 di Eropa Barat, kota ideal dikaitkan dengan wujud fisik dari sebuah masyarakat urban yang mampu mengintegrasikan berbagai kelas sosial dalam sebuah lingkungan yang baik. Pada masa pembangunan masyarakat modern abad ke-20 peinsip-prinsip yang diperjuangkan pada abad ke-19 di sebagian besar negara Eropa Barat telah diterima sebagai acuan bagi pengembangan setiap kota.

Namun pada kondisi saat ini, persoalan kehidupan kota yang kompeks, tak saja bisa dijawab dengan kemegahan fisik, namun juga kemampuan kita menjaga kultur sosial yang humanis.

Karena itu, kota budaya merupakan gabungan wujud kemajuan bangunan fisik dan kemampuan masyarakat membangun keadaban kulturalnya yang bersifat humanis. Kekuatan ini yang akhirnya nanti akan menentukan wujud fisik, sosial, dan budaya sebuah kota yang dianggap ideal.

Begitupun, tantangan globalisasi harus dapat direspons dengan baik. Semua kota harus mampu berkembang menjadi kota yang secara sosial-budaya terintegrasi dalam pergaulan dunia global, tanpa mengorbankan ciri lokal dan identitas kultural kita.

Subaidi Pratama

Subaidi Pratama

Pegiat sastra dan kebudayaan, sarjana dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang. Email: subaidipratama55@gmail.com.