Kota Kata, Kota Pendidikan

Berbicara mengenai kota pendidikan. Saya yakin pikiran kita langsung tertuju ke Jogja.  Selain dari segi historisnya, Jogja memiliki atmosfer akademik yang mendukung masyarakatnya untuk berkembang baik dari segi akademik maupun pengembangan skill. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya lembaga pendidikan berkualitas yang ada di kota itu.

Lalu bagaimana dengan kota lain. Apakah karena sudah ada Jogja kota lain dianggap kurang berkualitas secara pendidikan? Tidak juga. Atau, biarlah Jogja selamanya tetap menjadi kota pendidikan.

Tapi mari kita geser sedikit pemikiran kita dari kota pendidikan ke sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, dengan pendidikan. Kenapa, karena sudah saatnya kita berfokus pada subjek, bukan objek.

Bingung?

Begini, jika kita lihat sudah tak terhitung berapa jumlah lembaga pendidikan formal di Indonesia. Dan nyatanya sejak dulu anak-anak disekolahkan minimal hingga jenjang SMP atau SMA sederajat. Namun bisa kita lihat juga banyak sekali anak-anak yang bersekolah hanya untuk memenuhi kewajiban atau bahasa kasarnya tuntutan zaman dan keluarga. Maksudnya? Banyak kita jumpai anak-anak bersekolah bukan atas dasar kebutuhan pribadi dan berdampak pada kekurang seriusan mereka di sekolah.

Lalu apa masalahnya? Masalahnya karena tidak tertanam keinginan belajar dari dalam diri sendiri. Sekolah menjadi tempat berproses di awal usia yang mereka sendiri (pelajar) entah tahu atau tidak mereka sedang berproses. Hal itu bisa terjadi karena pemahaman dari dalam keluarga tentang pendidikan dari sejak kecil kurang maksimal. Dampaknya, kesadaran tentang pentingnya belajar sejak kecil tidak hadir secara utuh dalam diri para pelajar.

Permasalahannya tak hanya itu. Ilmu yang mereka dapatkan banyak yang tidak bisa diaplikasikan ke dunia nyata. Misalnya, apa yang bisa diaplikasikan dari rumus matematika faktor jika mereka berhenti sampai di tingkat SMA?  Kita ambil contoh. Anak-anak yang mentok pendidikannya sampai SMA. Lapangan pekerjaan apa yang tersedia bagi mereka? Sementara umumnya semua penyerap tenaga kerja mensyaratkan ijasah minimal S1 bagi pelamarnya.

Maka yang terjadi, mereka akan berakhir di pekerjaan kasar. Ini nyata dan sudah menggenerasi, lulusan SMA apalagi SMP sejak dahulu mana ada yang duduk di kantor, mentok paling jadi OB (office boy). Kecuali mereka mendirikan perusahaan sendiri. Sisanya akan berakhir di toko, pabrik, dan sawah. Mereka yang memiliki skill mungkin akan bernasib lebih baik. Menjadi tukang servis, seniman, koki, dan desainer. Tapi itu hanya terjadi pada mereka yang memiliki skilI. Sisanya, selamat datang di dunia yang keras.

Maka ketika berbicara tentang kota pendidikan, sesungguhnya yang penting menjadi perhatian bersama adalah subjek, bukan objek. Kota sebagai simpul peradaban harus kembali ke dalam diri, subjek harus berdaulat, pendidikan harus menjadi kebutuhan mendasar dan pengembangan skill sebagai jalan untuk beradab.

Ismaul Choiriyah

Ismaul Choiriyah

Content writer Majalah KIRANA, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: ismaulchoiriyah7@gmail.com.