Kota Kata, Kota Sosial

Sebut saja Jakarta, ibu semua kota di Indonesia. Jakarta adalah representasi dari sebuah wilayah bernama kota. Sebab setiap kali mendengar istilah “kota”, maka yang tumbuh dalam kepala adalah sebuah konstruksi tentang sepotong “dunia” yang megah, dengan dinding beton mencakar langit, serta kehidupan yang bergerak sangat cepat. Seolah tidak memberikan ruang sedikit pun untuk sekadar basa-basi.

Bila kita pernah berkunjung ke Jakarta, entah liburan atau kunjungan pekerjaan, kehidupan di sana berlalu begitu cepat. Kendaraan lalu lalang, macet berkepanjangan, dan mereka selalu saling ingin mendahului. Para pejalan kaki di atas trotoar tak memiliki waktu untuk bertegur sapa. Di samping karena tidak saling mengenal, juga karena mereka terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Takut terlambat datang ke kantor, khawatir tidak kebagian rezeki, dan berbagai alasan lainnya.

Kehidupan di sebuah kota adalah pertarungan dua kutub: superior dan inferior, cepat dan lambat, kuat dan lemah. Semua orang secara berjamaah berada dalam tumpah ruah dan riuh percepatan–percepatan pergerakan kendaraan, gerak manusia pabrik, pedagang-pedagang kaki lima, hingga percepatan pergantian citra–sekaligus topeng, barangkali.

Selalu ada dua simbol dalam konteks ini. Bila ada kota, sudah pasti juga ada desa. Kehidupan sosial di desa tidak perlu disanksikan lagi. Konstruksi dan relasi sosial kehidupan desa (sebagai komparasi dari keberadaan “kota”) sangat kuat. Kira-kira demikian yang acap terbesit dalam benak setiap kali harus menjawab bagaimana idealnya kehidupan sosial yang seharusnya–pola dan kontak sosial yang tanpa sekat, basa-basi yang masih relevan untuk mempererat hubungan kemanusiaan, serta kepedulian satu sama lain yang hingga kini belum mampu disamai oleh orang-orang kota yang kian terjebak ke dalam kehidupan simbolik-individualistis.

Tentu ini, di satu sisi, dianggap sebagai kerugian atas memudarnya kesadaran kolektif dalam masyarakat. Namun, di sisi lain, ini boleh jadi dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima sebagai akibat dari kemajuan, di mana masyarakat kota, menurut Emile Durkheim, mulai sadar untuk membagi kerja dengan sangat tinggi. Maka memimpikan kota sosial, berarti kita perlu kembali mengingat manusia sebagai animal sociosus. Bahwa manusia adalah makhluk berteman dan berelasi. Bahwa manusia adalah mamalia sosial yang tidak mampu melanjutkan kehidupan tanpa menjalin kontak sosial dengan orang lain.

Latif Fianto

Latif Fianto

Peminat kajian sosial dan budaya, lulusan Fakulas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Email: latiffianto7@gmail.com.