Makna Tasawuf bagi Keindonesiaan (1)

Salah seorang orientalis, H. A. R Gibb (1932) pernah mengatakan, Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization (Islam sesungguhnya lebih dari sekadar sistem teologi (agama), tetapi Islam merupakan peradaban yang sempurna).

Pandangan yang diungkapkan oleh Gibb merupakan sebuah penghargaan tersendiri bagi Islam sebagai sebuah agama. Islam senyatanya memang sebuah Agama dan juga peradaban (theology cum civilization). Menengok peradaban di Indonesia sendiri, kita dapat melihat bagaimana Islam mewarnai wajah keindonesiaan kita.

Keberhasilan para Wali Songo (Wali Sembilan) mengislamkan masyarakat Jawa tanpa disertai pertumpahan darah menandai keteduhan wajah Islam. Bahkan para Wali Songo melakukan pengislaman dengan melakukan pendekatan sufistik atau dimensi esoteris tanpa menghilangkan unsur-unsur kearifan lokal. Sehingga bagi masyarakat lokal, agama yang dibawa oleh Wali Songo tidak terkesan asing bagi mereka.

Sebagai contoh, kita melihat bagaimana corak bangungan Masjid Menara Kudus yang dibangun tanpa menghilangkan unsur agama Hindu, bahkan ketika musim Idul Qurban datang, Sunan Kudus mengganti Sapi yang dianggap sakral bagi agama Hindu dengan Kerbau, dan tradisi seperti itu terus berlangsung hingga kini.

Pengislaman yang dilakukan oleh para wali songo juga melakukan pendekatan secara sastrawi. Munadi Herlambang dalam Jejak Kyai Jawa: Dinamika Peran Politik & Pemerintahan Para Tokoh (2013) memberikan contoh tentang karya Sunan Bonang yang meliputi Puisi dan Prosa di antaranya Suluk Wijil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain sebagainya. Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari.

Keberhasilan penyebaran Islam sejurus dengan pengislaman budaya itu sendiri. Budaya yang bertentangan dengan syariat berhasil diubah tanpa kehilangan bentuk budaya itu sendiri. Simuh, pakar Tasawuf Islam Jawa, mengisahkan bahwa Kesultanan Demak berhasil mengislamkan Kalender Jawa tanpa kehilangan unsur-unsur jawanya. Dan hingga kini umumnya para orang tua kita selalu menggunakan kalender Jawa dalam menentukan suatu hal, seperti pernikahan, pelayaran, dan lain sebagainya (Bersambung).

Mukhammad Ichwanul Arifin

Mukhammad Ichwanul Arifin

Pengkaji tasawuf, lulusan Akidah dan Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: ichwan.ungu@yahoo.co.id.