Makna Tasawuf bagi Keindonesiaan (2)

Para penyebar agama Islam paham betul, bahwa untuk mengislamkan masyarakat tidak boleh serta merta menggunakan kekerasan ataupun perdebatan, tetapi menggunakan metode Mauidzotul Hasanah (QS. an-Nahl: 125). Dengan begitu, Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Dalam agama Islam, dimensi eksoteris agama diwakili oleh syariat, sedangkan dimensi esoteris diwakili oleh tasawuf (kini direpsentasikan oleh penganut Tarekat).

Sebuah agama yang hanya mengandalkan sisi syariat, maka agama akan terkesan keras. Di sanalah tasawuf hadir sebagai solusi untuk melunakkan sisi keras agama, sehingga nanti agama senantiasa dapat hadir di segala lini kehidupan manusia, apapun bentuk zamannya. Sisi esoteris seperti itulah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, sehingga menurut Simuh, Tasawuf telah merasuk ke dalam jiwa umat Islam di Indonesia.

Dalam kajian akademis, Tasawuf terbagi menjadi dua yaitu tasawuf Falsafi dan tasawuf Sunni atau tasawuf Akhlaqi dan Amali. Tasawuf Falsafi menyatu dalam ajaran kerohanian atau kebatinan, sedangkan tasawuf Sunni terbagi dalam berbagai ordo tarekat. Misalnya Tarekat Qadiriyah yang didirikan oleh murid Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani, Tarekat Naqsyabandiyah yang didirikan oleh Syaikh Muhammad Bahauddin an-Naqsyabandi. Serta berbagai tarekat yang lain.

Baru-baru ini, Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), organisaai yang menaungi berbagai ordo tarekat menggelar Muktamar XII di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, dengan mengambil tema “Dengan Thoriqoh yang Berdasarkan Ahlussunnah Wal Jama’ah untuk Meningkatkan Ubudiyyah sehingga Mampu Membawa Rahmatan lil Alamin”.

Agama Islam sejatinya agama yang rahmatan lil alamin. Bahkan dalam firman-Nya, Allah SWT. mengutus kekasih-Nya untuk menjadi rahmat. Berbicara tentang rahmat, pada tulisan terdahulu saya sudah sampaikan bahwa rahmat tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi alam semesta (Baca: Agama Cinta dan Kebencian Kita).

Secara faktual, Indonesia merupakan penduduk yang terdiri dari 714 ras, dan berkat keberhasilan para penyebar agama Islam, mayoritas penduduknya beragama Islam, bahkan menjadikan Indonesia sebagai penduduk Islam terbesar di dunia.

Buah tasawuf yang menjadikan mayoritas umat Islam bersikap moderat dalam bertindak (meskipun tidak dipungkiri masih ada segelintir orang yang bersikap keras), menjadikan bangsa Indonesia tetap sebagai negara utuh bahkan hidup secara berdampingan. Terbukti, beberapa konflik dengan tangkas bisa diatasi.

Indonesia selalu menjadi lirikan oleh berbagai negara. Bahkan negara di mana agama Islam itu lahir, Arab Saudi sampai terkejut dengan kehidupan umat yang ada di Indonesia. Sehingga meminta Presiden untuk dipertemukan dengan pemuka agama di Indonesia (Kompas, 16/1/18).

Jika memang buah dari tasawuf ialah terbentuknya manusia yang moderat, maka peran tasawuf perlu kita kuatkan bersama agar bangsa Indonesia benar-benar menjadi baldatun thoyyibatun wa Rabbun ghofur.

Mukhammad Ichwanul Arifin

Mukhammad Ichwanul Arifin

Pengkaji tasawuf, lulusan Akidah dan Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: ichwan.ungu@yahoo.co.id.