Media Sosial dan Daya Kritis Kita

Oleh Muhammad Yunus*)

Proliferasi teknologi komunikasi yang diikuti lahirnya beragam media sosial berdampak terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia. Menulis dan memposting tulisan ke media sosial telah menjadi kebiasaan masyarakat di era gital saat ini. Like, share, dan komentar menjadi gaya hidup. Tak terkecuali sindiran, caci maki, pro dan kontra.

Jika selama ini masyarakat dalam kondisi kondusif, tidak demikian dalam kehidupan dunia maya. Mereka yang aktif dalam percaturan media sosial, hiruk pikuk, perdebatan, pro dan kontra, sungguh menjadi warna keseharian.

Masyarakat terpecah menjadi dua kelompok besar. Pro dan kontra. Dua kelompok besar tersebut semakin meruncing, karena mereka hanya percaya terhadap media yang paling sering mereka sentuh, grup apa yang mereka ikuti, dan platform politik apa yang mereka perjuangkan. Media selain kelompoknya dianggap subjektif, dan kebenaran telah berubah menjadi kebenaran sepihak.

Lalu, kenapa ini terjadi?

Data dari Kominfo menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-6 terbesar di dunia dalam hal jumlah pengguna internet, sekitar 112 juta pada tahun 2017. Bahkan jumlah ini lebih kecil dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia yang mempunyai data 133 juta pengguna internet pada tahun 2016. Artinya, betapa sangat besar pengguna internet di Indonesia, melebihi separuh total penduduk yang ada (52%).

Jumlah sebesar itu setiap harinya dijamu dengan berita-berita yang belum tentu benar dan di luar berita media mainstream. Begitupun, hal yang tidak diberitakan di media mainstream, ada di media sosial.

Sementara, kondisi kemampuan literasi di Indonesia menurut data statistik dari UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat ke-60 dengan tingkat literasi rendah. Kondisi yang sangat kontradiktif inilah yang mengakibatkan kegaduhan masyarakat Indonesia akibat menjamurnya media social, sementara pembacanya mempunyai tingkat literasi rendah. Artinya, mereka menganggap bahwa setiap berita yang ada di media adalah benar adanya, karena tidak adanya kemauan untuk mencari perspektif lain, yang diakibatkan oleh rendahnya literasi tersebut.

Jika kondisi ini terus berlanjut, maka hal yang memilukan akan terjadi dalam kehidupan sosial kita. Masyarakat akan lebih percaya sama berita media sosial dari pada tokoh masyarakat. Sekelas presiden pun tidak akan dipercaya oleh masyarakat jika presiden tersebut di luar mainstream pikiran mereka. Sebaliknya masyarakat akan lebih percaya terhadap figur yang dibungkus dengan pemberitaan yang bagus.

Lalu, mungkinkah kita menjadi pembaca kritis?


*)Muhammad Yunus, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Malang.