Memanasnya Suhu Politik Jatim

Oleh Hayat*)

Komisi Pemilihan Umum (KPU) di berbagai daerah telah membuka pendaftaran calon kepada daerah sejak tanggal 8-10 Januari. Termasuk di Jawa Timur, hari ini (10/1) adalah hari terakhir pendaftaran. Di menit-menit terakhir, biasanya kandidat melakukan pendaftaran dengan berbagai ornamen dan mobilisasi massa sebagai bentuk dukungan dari masyarakat kepada para calon. Hal ini dilakukan untuk menarik simpati publik saat mendaftark ke kantor KPU.

Namun demikian, mundurnya Abdullah Azwar Anas yang sudah dideklarasikan untuk mendampingi Saifullah Yusuf (Gus Ipul) pada laga Pilkada Serentak 2018 di Jawa Timur menjadi dinamika politik yang begitu tajam dan berliku. Dampak yang cukup besar bagi pengusung pasangan ini adalah mencari pengganti yang pas dan kompatibel untuk mendampingi Gus Ipul.

Tidak mudah menunjuk seseorang untuk menjadi bakal calon wakil gubernur. Banyak pertimbangan, indikator, dan hitung-hitungan yang matang. Kalkulasi sampai spekulasi harus jelas, konkret, dan realistis. Terutama tingkat elektoralnya menjadi penyangga bagi Gus Ipul untuk memenangkan Pilkada Serentak 2018.

Butuh koordinasi dan konsultasi yang matang antarsemua elemen dalam waktu yang cukup singkat. Tetapi bagaimana pun juga, keputusan harus segera diambil dan disepakati sebagai komitmen bersama dan langkah kongkret untuk mendaftar ke KPU.

Persoalannya dalam konteks pemilihan kepada daearah adalah bukan saja sejauh mana harus memenangkan pilkada. Bukan pula seberapa banyak massa yang dimiliki dalam pertarungan pilkada. Tetapi lebih kepada bagaimana proses pengenalan, pemahaman, penguatan kapasistas melalui program, pengembangan kesejahteraan masyarakat, serta bagaimana membangun Jawa Timur ke depan menjadi lebih baik.

Sementara pasangan Khofifah dan Emil semakin mantap dengan terus meningkatkan volume elektoralnya. Melakukan berbagi komunikasi politik dengan semua elemen yang menjadi basis kekuatan politiknya, serta merangkul ruang-ruang yang berpeluang untuk menguatkan dukungannya.

Masyarakat sudah sadar politik, terutama masyarakat Jawat Timur yang notabene mempunyai tingkat pendidikan politik yang cukup tinggi dilihat dari partisipasi politiknya. Paradigma pragmatisme sudah mulai terkikis oleh semakin tingginya partisipasi politik masyarakat dalam rangka meninggikan tingkat kesejahteraan. Masyarakat sudah mulai sadar tentang arti one man one vote dalam sistem demokrasi.

Sekarang yang perlu dilakukan adalah bagaimana kandidat melakukan berbagai proses yang tepat guna, tepat sasaran, dan tepat watu kepada masyarakat dengan tidak hanya mengobral janji, tetapi menawarkan konsep, memberikan road map, dan melakukan tindakan nyata dalam formulasi program yang akan dilakukan.

Program yang rasional itu jauh lebih diterima dan dijadikan sebagai rekomendasi untuk keterpilihannya pada saat pemilihan nanti.

Semoga pilihan masyarakat Jawat Timur pada pilkada nanti, menjadi yang terbaik untuk Jawa Timur yang lebih maju, sejahtera, dan berkeadilan.

*)Hayat, dosen Ilmu Administrasi Pulbik Fakultas Ilmu Adminstrasi Universitas Islam Malang dan Peneliti Lakpesdam NU Kota Malang.

kotakata.id

kotakata.id

Redaksi kotakata.id: portal analisis isu-isu aktual, populer, dan krusial.