Meme sebagai Sanksi Sosial (1)

Pada era globalisasi ini sudah tidak asing lagi apabila mendapati berbagai aktivitas dapat dikerjakan dengan menggunakan komputer ataupun smartphone, baik untuk mengerjaan tugas maupun hanya bergaul di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, dan media lainnya. Bahkan tidak sedikit di antaranya menyebarkan berita, menggugah video dan membuat meme.

Kehadiran berbagai media sosial adalah bentuk keluarbiasaan sejarah yang telah mengubah proses komunikasi manusia. Proses komunikasi yang selama ini dilakukan hanya melalui komunikasi tatap muka, komunikasi kelompok, komunikasi massa, berubah total dengan perkembangan teknologi komunikasi dewasa ini, khususnya internet. Perubahan tersebut akan membawa konsekuensi-konsekuensi pada proses komunikasi dan dampaknya.

Meme bisa berarti ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya. Sementara itu, makna satu lagi yang populer di masyarakat, yakni meme berarti cuplikan gambar dari acara televisi, film, dan sebagainya atau gambar-gambar buatan sendiri yang dimodifikasi dengan menambahkan kata-kata atau tulisan untuk tujuan melucu dan menghibur.

Hampir setiap negara memiliki model hiburan di dunia maya. Termasuk di Indonesia, para netizen memiliki banyak sekali  bentuk hiburan yang diminati, salah satunya adalah meme. Pada awalnya, meme dibuat sebagai bahan ejekan dan lelucon, biasanya meme dapat berbentuk seperti foto dan diisi dengan kata kata lucu atau sindiran.

Meme adalah sebuah fenomena dalam dunia maya yang masih terus berkembang. Tujuan meme sendiri sebenarnya beragam, namun lebih dominan untuk menghibur. Meski yang terjadi dalam beberapa postingan, justru keluar dari apa yang disebut sebagai bahan hiburan.

Bayangkan, jika sebuah postingan meme selalu membahas tentang seksualitas, perilaku menyimpang yang melibatkan anak di bawah umur, konflik SARA, penghinaan terhadap individu, dan juga beberapa unsur negatif yang hakikatnya bukan untuk konsumsi publik. Tentu hal yang justru menyimpang ini perlu peran serta berbagai pihak dalam menanganinya.

Meski terlihat lucu, tak jarang meme yang dibuat untuk menyindir seseorang atau peristiwa tertentu yang menjadi pembicaraan hangat sering menuai protes dan komentar pedas dari berbagai pihak. Sebenarnya dalam pembuatan meme tidak ada aturan bakunya. Hanya ruang gerak pembuatan meme di Indonesia dibatasi undang-undang yang berkaitan dengan ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik) dan pencemaran nama baik. Karena itu, jika meme dibuat bertujuan untuk menjelek-jelekkan seseorang atau sekelompok orang, maka sudah tentu terancam sanksi hukum (Bersambung).

Abid Zamzami

Abid Zamzami

Dosen pada Fakultas Hukum Universitas Islam Malang.