Menakar Daya Baca Mahasiswa

Oleh Zainal Muttakin*)

Sebagian mahasiswa, mungkin ada yang beranggapan membaca merupakan aktivitas membosankan. Maka tidak heran, meski sudah banyak buku yang dijajakan di toko-toko buku, ternyata kurang menarik untuk dibeli. Perpustakaan seolah hanya menjadi pajangan untuk menggenapi pemandangan saja. Jarang disinggahi, apalagi disesaki untuk berburu buku-buku bacaan.

Pepatah, “buku adalah jendela dunia,” seperti terlupakan. Padahal, sejatinya sangat bermakna. Melalui bukulah kita banyak menimba ilmu pengetahuan. Kalimat-kalimat yang terangkai rapi di dalamnya mengandung sari-sari ilmu yang sangat kita butuhkan. Tidak salah jika Roem Topatimasang mengatakan, “setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, dan setiap buku adalah ilmu.”

Dengan membaca kita dapat menggali lebih banyak pemahaman tentang pemikiran orang lain. Membaca membuka cakrawala pengetahuan. Karenanya, mengutip pendapatnya Syeikh Fuad Shahih, “sangat aneh jika umat Rasulullah Muhammad SAW. tidak rajin membaca, padahal wahyu pertama yang diterima beliau adalah perintah iqra’, yang berarti: bacalah!”

Senada dengan itu, menurut Rahim (2005) dengan membaca seseorang dapat meningkatkan ilmu pengetahuan. Daya nalarnya pun semakin berkembang dan memililiki pandangan yang luas. Orang yang gemar membaca lebih pintar dalam memilah dan memilih. Hal mana yang lebih bermanfaat bagi masyarakat dari pada kelompok atau dirinya sendiri. Mereka akan lebih mementingkan apa yang bermanfaat bagi orang banyak dari pada dirinya sendiri.

Tetapi, tampaknya minat baca mahasiswa saat ini patut dipertanyakan. Realitas berbicara lain. Sebagian mahasiswa malah banyak mengisi hari-harinya dengan aktivitas yang bertolak belakang dengan perintah ayat suci di atas. Mereka justru cenderung dan bahkan lebih suka menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang kurang produktif.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mendongkrak minat bahkan daya baca mahasiswa?

Menurut penulis, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, memotivasi diri. Kita perlu memotivasi diri dengan cara membangkitkan semangat untuk terus membaca buku. Rasa malas perlu diubah menjadi semangat membaca yang instens. Hingga hadir daya untuk terus menyelami dan mengkaji lautan kata-kata yang diciptakan penulis. Kecerdasan dengan bekal pemahaman yang banyak sekaligus pemikiran luas harus menjadi alasan mengapa harus terus membaca, membaca, dan membaca.

Kedua, mengurangi pemakaian internet. Diakui atau tidak ketergantungan kepada internet secara berlebihan berpengaruh besar bagi minat membaca. Pemakaian waktu yang berlebihan untuk bermain game online secara langsung mematahkan kesadaran untuk membaca buku. Ketergantungan tinggi terhadap media sosial mengakibatkan turunnya kemauan  membaca buku. Karenanya penggunaan internet untuk hal-hal yang tak produktif perlu dihindari.

Ketiga, mencintai perpustakaan. Kehadiran perpustakaan juga tidak kalah penting untuk dihargai. Perpustakaan perlu disadari sebagai gudang ilmu, tempat bersarangnya ilmu pengetahuan. Kecintaan terhadap perpustakaan dapat diwujudkan dalam bentuk kunjungan intens baik secara pribadi maupun kelompok. Budaya nge-mall mesti dilawan dengan budaya nge-perpus..

Ketiga hal tersebut penting dilakukan untuk mengundang kembali semangat membaca. Budaya membeli dan membaca buku harus dikuatkan. Karena bagaimana pun juga hal tersebut memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di dalam dunia akademik.


*)Zainal Muttakin, mahasiswa Ilmu Administrasi Publik Universitas Islam Malang.

kotakata.id

kotakata.id

Redaksi kotakata.id: portal analisis isu-isu aktual, populer, dan krusial.