Menanti Film G30S/PKI Versi Milenial

Setiap tanggal 30 September, masyarakat Indonesia akan mengingat sejarah kelam penculikan sekaligus pembunuhan 6 (enam) jendral yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Tragedi percobaan kudeta kekuasaan tersebut biasa dikenal dengan Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), ada pula yang menyebutnya dengan Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI).

Pada tahun 1984 di bawah kepemimpinan Orde Baru, dibuatlah film tentang tragedi tersebut dengan judul “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” yang disutradarai dan ditulis oleh Arifin C. Noer. Meskipun menampilkan adegan-adegan sadis yang berlebih, nyatanya film ini menjadi tontonan wajib setiap tanggal 30 September selama 13 tahun kepemimpinan Orde Baru, hingga akhirnya penayangan tersebut dihentikan pasca lengsernya rezim tersebut.

Selama 13 tahun tersebut, Orde Baru melalui Departemen Penerangan (kini Departemen Komunikasi dan Informatika) melakukan propaganda sejarah tentang tragedi G30S yang didalangi oleh PKI. Pun selama 13 tahun tersebut, Orde Baru yang dipimpin oleh Jendral Soeharto mendoktrin masyarakat Indonesia tentang keberhasilannya dalam membasmi PKI hingga ke akar rumput.

Gayung bersambut, seiring berjalannya waktu, banyak para pakar sejarah mengkritik tentang fakta sejarah yang tersurat dalam film tersebut. Di antaranya banyaknya rekaan-rekaan film yang tidak sesuai dengan peristiwa sebenarnya. Maklum saja, film tersebut merupakan alat propaganda penguasa demi melanggengkan kekuasaannya. Dan tentu saja, sejarah akan ditulis sesuai kehendak para penguasa, bukan?

Sebuah film tentu memiliki arti tersendiri bagi para penontonnya. Selain sebagai sarana hiburan, sebuah film dapat menjadi sarana pendidikan sekaligus alat indoktrinasi bagi para penontonnya, sehingga ia dapat mengingat secara detail, baik adegan maupun dialog yang terkandung di dalamnya. Film Dilan 1990 misalnya, yang membuat para milenialis (sebutan untuk kaum milenial) tergila-gila dengan kata “Kamu jangan rindu, rindu itu berat, biar aku saja” yang menghebohkan jagad dunia maya.

Di tengah perdebatan pro dan kontra tentang kebenaran sejarah film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI, tentu saja kita menginginkan film tentang tragedi kelam tersebut dengan sinematografi yang lebih kekinian, sehingga dapat menarik minat para milenialis untuk menontonnya, tentu juga dengan alur dan sudut pandang yang lebih berimbang.

Melalui pembuatan film sejarah yang lebih kekinian, semoga semakin menarik simpati para milenialis agar tidak melupakan sejarah bangsanya. Sebagai sebuah bangsa, tentu kita tidak boleh melupakan sejarah. Dari sejarah kita akan belajar bagaimana menghadapi persoalan di masa mendatang. Melupakan sejarah berarti menolak bangsa ini untuk maju dan lebih berkembang.

Mukhammad Ichwanul Arifin

Mukhammad Ichwanul Arifin

Pengkaji tasawuf, lulusan Akidah dan Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: ichwan.ungu@yahoo.co.id.