Menghalau Ekstremisme Islam

Agama adalah tempat memupuk kedamaian bagi setiap hamba-Nya. Kewajiban ibadah vertikal kita kepada Allah, adalah cara memupuk kedamaian hati dan ruang personal kedirian kita. Sementara ibadah horizontal ada cara memupuk kedamaian ruang sosial kita, dengan menjalin hubungan kemanusiaan yang harmonis, serta mengedepankan sifat toleransi antar pemeluk agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tugas manusia di muka bumi adalah membangun peradaban, bukan membuat keruh keadaan dan merusak tatanan sosial dengan kekerasan. Jika perbuatan yang sering memicu konflik dilakukan terus-menerus, maka eksistensi agama yang santun dan lurus akan ternodai. Pada saat ini, seringkali agama dijadikan alat transaksi kekuasaan dengan jargon membela agama. Namun, semua itu hanya kamuflase untuk kepentingan kelompok tertentu.

Sangat ironis sekali, ketika agama dijadikan nilai tukar tambah layaknya pasar menghadapi persaingan global. Padahal, agama diturunkan untuk menebarkan kasih sayang, bukan untuk saling hujat dan menyuarakan kedengkian. Ketika agama diamalkan hanya untuk sebuah kebencian, maka tidak menutup kemungkinan Indonesia akan seperti Afganistan dan negara-negara Timur Tengah lainnya yang sekarang dilanda konflik antar saudara sebangsanya. Kehancuran suatu negara bukan karena warganya tidak bertuhan, namun karena mereka menuhankan agamanya. Sehingga, siapapun yang tak selaras dengan pandangan dirinya, akan ditumpas secara massal.

Kalimat tauhid tak lagi menjadi wiridan hati, melainkan menjadi sebuah yel-yel jalanan, dengan dalih menegakkan agama Islam secara kaffah di bumi Nusantara. Provokasi dibengkakkan untuk menggiring massa, menuduh pemerintahan yang sah dengan sebutan pemimpin yang serakah, serta ingin mengubah ideologi final Pancasila pada ideologi Khilafah. Jika mereka para pengasong radikalis tetap mempunyai ruang mengadakan rekrutmen anggota ataupun simpatisan, tentu akan mamarginalkan nilai-nilai agama dan merusak tatanan sosial kebangsaan kita.

Ekstremisme yang diusung mereka merupakan hasil komoditas pemikiran ekspor, untuk menolak Islam di Nusantara yang sudah menyejarah dan berkelindan dengan kebudayaan lokal, tanpa mencemari kesakralan ajaran Islam itu sendiri. Mereka merongrong kesucian agama dengan semboyan jihad, yang pada akhirnya memahami agama tidak pada bentuk kontekstual namun hanya pada sisi tekstual. Sehingga substansi agama kehilangan makna empiris yang faktual untuk terus berpijak di atas dasar nilai-nilai kemanusiaan—kerahmatan Islam.

Abu Rakso

Abu Rakso

Lulusan Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang.