Menguatkan Produksi dalam Negeri

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 dunia. Karenanya, Indonesia patut untuk dipertimbangkan dunia dalam persaingan globalisasi, terutama dalam hal perdagangan. Secara kuantitas, Sumber Daya Manusia (SDM) sangat mumpuni untuk menjadi pemenang atau setidaknya berperan lebih aktif memberikan warna dalam perdagangan internasional (international trade).

Sayangnya panggang jauh dari api, kekayaan berupa banyaknya SDM di Indonesia belum maksimal dan tertata. Ini diindikasikan dengan banyaknya barang-barang impor dari luar negeri. Alhasil, SDM yang begitu banyak hanya berpotensi sebagai market (baca: konsumen) bagi negara lain, bukan produsen. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) hanya ada kisaran 3,10 % jumlah pengusaha dari jumlah penduduk total. Meski trennya meningkat, ini masih belum cukup, karena negara maju sebagian besar punya pengusaha 8% lebih dari total penduduk.

Lebih prihatinnya, dari 3,10% itu, tidak semua bermain di sektor produksi. Sehingga, kuasa untuk menghasilkan produk/barang masih sangat minim. Sebagian pengusaha hanya cari mudah dengan menjadi distributor, agen, reseller, ataupun dropshipper. Ironinya banyak di antaranya barang yang dikelola adalah barang impor—pengusaha barang impor, bahkan sampai-sampai diseminarkan cara impor dengan bayar jutaan hingga puluhan juta rupiah.

Dengan demikian sudah jelas, alasan kenapa pertumbuhan pengusaha terus naik, akan tetapi dari segi persaingan perdagangan internasional, bangsa ini masih belum maksimal. Di sini lah perlunya ada sinergi antara masyarakat dan pemerintah.

Pemerintah seyogyanya memberikan akses kemudahan dan efisiensi bagi para pengusaha, terutama pengusaha rintisan. Semisal dalam pengeluaran izin usaha, P-IRT untuk makanan, dan lain lain, efisiensikan waktu pengurusan izin, jangan sampai molor berbulan-bulan. Karena usaha itu ada momen, kalau kelewat momen akan sangat menghambat proses pemasaran.

Sementara untuk masyarakat, terutama mahasiswa, mulailah belajar usaha, gunakan waktu untuk berdagang, berjualan sekecil apapun itu, karena itu akan melatih mental. Jangan berharap setelah lulus baru berpikir ingin jadi pengusaha, telat. Selanjutnya ini akan menjadi dilema, dan yang paling buruk jadi pengusaha karena terpaksa, bukan karena keinginan terencana. Ini bisa terjadi semisal ingin kerja, melamar PNS tidak lulus, baru berpikir usaha atau jualan.

Jadilah pengusaha yang terencana, mempunyai visi jauh minim 20 tahun ke depan. Karena mata seorang pengusaha ada 2 pasang, sepasang melihat apa-apa yang di depannya saat ini, dikerjakan, dan sepasang lagi jauh menerobos beberapa tahun ke depan. Dengan mental seperti itu, akan banyak muncul ide-ide kreatif dan produk unggulan, yang siap menguatkan produksi dalam negeri, baik sebagai counter barang impor maupun turut serta mewarnai perdagangan internasional.

Setyo Pamuji

Setyo Pamuji

Lulusan Master of Business Administration (MBA) Central China Normal University, Tiongkok. Email: setyopamuji@mails.ccnu.edu.cn.