Merawat Masjid Kita

Pulang kampung adalah cara kita untuk merawat banyak hal dalam kehidupan, seperti akar, hubungan keluarga, dan spiritualitas. Dengan mengingatkan anak tentang nenek-moyangnya, mereka tidak hanya sekadar mendapatkan perhatian, tetapi juga pengetahuan. Namun, ketika kehendak merawat dunia batin, kampung halaman telah berubah dengan pesat, tidak hanya fisik tetapi juga psikis, yang terkait dengan pemahaman keagamaan.

Dulu, sebuah surau di kampung kami yang jauh dari jalan raya Kaliurang memelihara tradisi zikir sebelum menunaikan sembahyang magrib. Malah, sebelum kami menempati kediaman baru, di sebuah rumah sewa transit, kami menikmati zikir berlanggam Jawa yang dibawakan oleh salah satu anggota jamaah yang sudah tua. Namun, masjid itu berganti kepengurusan. Takmir baru berpaham salafi, yang menolak praktik bid’ah. Kata yang bersumber dari hadis ini sering terdengar selama saya mengikuti ibadah, seperti sembahyang Jumat dan Subuh.

Sebagian warga tak mengunjungi masjid tersebut dan memilih tempat ibadah yang berjarak lebih jauh untuk menunaikan salat. Tak lama kemudian, atas inisiatif warga dusun, masjid alternatif dibangun. Dengan berbekal bantuan masyarakat, sebuah rumah ibadah berdiri tegak tanpa dinding. Praktis, hanya sepelemparan batu ada surau baru, yang gema azan seakan bersautan. Menariknya, keduanya dirawat oleh dua orang bersaudara yang memilih jalan yang berbeda.

Betapapun berasal dari keluarga tradisional, segelintir warga bersembahyang di masjid salafi. Namun, tak semua jamaah di sini membawakan diri sebagai sosok yang berusaha menghidupkan sunnah, seperti berjanggut, berjubah dan beserban. Salah satu orang tua yang sering berjamaah tampak lebih nyaman dengan sarung, batik dan songkok hitam. Malah, di hari Jumat, anak-anak remaja berseragam sekolah dan mengenakan kaos dengan aneka model dan gambar turut memenuhi ruangan. Dalam khotbah hadis tentang bid’ah adalah pembuka yang menegaskan jati diri kelompok ini.

Meskipun dalam sehari-hari kebanyakan warga tak mengunjungi masjid salafi, namun pada sembahyang Idul Fitri tahun lalu, kami menunaikan salat hari raya di tanah kosong yang tak jauh dari rumah. Pelaksanaan salat sunnah ini disiapkan oleh panitia dari masjid salafi yang menghadirkan imam muda dari Kotagede. Lagi-lagi, hadis tentang bid’ah disampaikan dalam khotbah. Kalau banyak jamaah yang bersedia menunaikan ibadah di tempat kaum salafi, adakah pengikut sunnah bersedia untuk melakukan hal serupa di masjid tradisionalis?

Bagaimanapun, mayoritas orang kampung merasa tentram mendengar zikir yang dibawakan oleh jamaah sebelum salat. Apalagi, anak-anak tampak bersemangat membacakan selawat sambil menunggu jamaah lain datang. Berbeda dengan masjid salafi, selawat sebagai pujian tak diperdengarkan. Padahal, tidak setiap bid’ah itu sesat. Menurut ulama, bid’ah bisa dibagi dua, yaitu baik (hasanah) dan buruk (madzmumah) dengan diksi yang tidak sama. Imam Syafi’i, misalnya, menyatakan bahwa bid’ah yang mencocoki sunnah adalah terpuji dan sebaliknya tercela. Sementara, Imam Ibnu Atsir menegaskan bahwa bid’ah yang sejalan dengan keumuman dalil-dalil nash, al-Qur’an dan hadis, digolongan sebagai amal terpuji.

Kenyataannya, makmum yang hadir di masjid salafi tak bertambah banyak. Malah, segelintir berasal dari desa sebelah. Demikian pula, masjid baru pun tak berlimpah jamaah. Hanya ada dua saf. Bedanya, masjid al-Hidayah ini menyediakan papan koran, sumbangan dari Kedaulatan Rakyat dan malah ada koleksi majalah Suara Muhammadiyah. Apapun keyakinan terhadap ajaran dan ekspresi kepercayaan, keduanya mempunyai tantangan yang sama bagaimana memakmurkan masjid dengan menerapkan manejemen yang baik.

Sejatinya, kita mempunyai model yang layak dicontoh, yaitu Masjid Jogokariyan. Alih-alih menonjolkan perbedaan, masjid yang berada di Mantrijeron lebih mengutamakan peran masjid yang telah dipraktikkan oleh Nabi, peduli pada warga sekitar. Tak hanya itu, ustaz yang mengelola masjid tidak kikuk menggunakan blangkon. Dalam sebuah acara televisi NET, salah seorang pengurus menegaskan bahwa data administrasi masjid menggambarkan demografi warga. Tanpa ragu, masjid akan membantu warga yang miskin menjadi kaya. Jelas, kelebihan 25 derajat berjamaah bukan sekadar ide abstrak, tetapi juga tindakan sosial konkret.

Ahmad Sahidah

Ahmad Sahidah

Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia.