Narasi Islamisme Pasca Pilpres (1)

Rekonsiliasi yang dilakukan Prabowo dan Jokowi tak kemudian menyudahi segala ketegangan soal Pilpres. Para pendukung di akar rumput ternyata memiliki jalannya sendiri, yang tak menyepakati jalan rekonsiliasi yang dilakukan Prabowo. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang menyerang Prabowo karena dianggap mengkhianati para pendukungnya. Mereka muak dengan inkonsistensi Prabowo, yang menganggap Pilpres curang, tapi dirinya menerima hasil Pilpres yang curang itu.

Di atas semua, tentu tindakan rekonsiliasi Prabowo dengan Jokowi, dianggap mendustai segala janji-jani manis Prabowo terhadap para pendukunya, yang sebelumnya telah bekerja keras—bahkan mati-matian—untuk memenangkan dirinya dalam kontestasi Pilpres 2019.

Secara terbuka, kalau kita saksikan, siapa yang terluka dengan rekonsiliasi yang dilakukan Prabowo? Ternyata mereka adalah kelompok-kelompok yang selama ini keras menyerang kepemimpinan Jokowi, karena posisinya tersisihkam. Mereka adalah kelompok-kelompok yang membawa narasi islamisme dalam kontestasi politik Pilpres yang lalu. Mereka menunggangi politik dengan isu agama dengan klaim seolah-olah kelompok Jokowi anti-Islam dan tidak pro terhadap umat Islam. Mereka menghendaki syariat Islam sebagai hukum negara dan melupakan kesepakatan bersama soal Pancasila sebagai dasar negara, yang di dalamnya memberikan ruang keteduhan pada semua pangut agama.

Pertarungan ini sejatinya sudah menggeliat sejak awal Indonesia merdeka, tetapi kemudian kran mereka tersumbat ketika Orde Baru memberlakukan asas tunggal Pancasila. Era reformasi dengan ruang kebebasannya yang terbuka, membuka sekat-sekat kelompok yang selama ini tak menemukan ruang publik untuk mengekpresikan narasi islamisme yang mereka yakini, dan akhirnya memuncak di masa kepemimpinan Jokowi.

Kondisi ini dipicu oleh keberanian Jokowi membubarkan ormas yang tak sejalan dengan falsafah kebangsaan kita. Jokowi memiliki nyali untuk menentang semua kelompok yang tak sejalan dengan Pancasila. Pada pidato Visi Indonesia yang disampaikan Jokowi di Bogor beberapa waktu lalu, secara tegas ia menyampaikan tidak memberikan toleransi sedikitpun bagi siapapun yang mengganggu Pancasila (bersambung).

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.