Narasi Islamisme Pasca Pilpres (2)

Pasca Rekonsiliasi

Lalu bagaimana nasib mereka pasca Pilpres? Kendati Prabowo sudah menerima kekalahannya pada Pilpres, yang ditandai dengan ucapaan selamat pada Jokowi beberapa waktu lalu, namun kelompok orang-orang sakit hati akibat kebijakan Jokowi, tetap saja bersikukuh tidak menerima kemenangan Jokowi, baik karena alasan curang ataupun kebengisan diri kadung membeci kepemimpinan Jokowi.

Sebab itu, narasi islamisme untuk menyerang kepemimpinan Jokowi pada periode keduanya tetap akan menjadi isu yang santer dilontarkan oleh kelompok tersebut. Untungnya Jokowi memiliki Wakil Presiden yang berlatar belakang ulama, K.H. Ma’ruf Amin, yang disokong oleh ormas besar Nahdlatul Ulama, sehingga pertarungan ini bukan hanya perlawanan pemerintah melawan kelompok-kelompok islamisme garis keras, tetapi juga pertarungan ormas-ormas moderat, yang selalu teguh menyuarakan keindonesiaan, keragaman, dan Pancasila sebagai asas tunggal negara. Pandangan ormas moderat ini tentu juga didasari oleh landasan keislaman yang kuat, sebagai dasar pemahaman keislaman dan keindonesiaan yang mereka jalankan.

Dengan demikian, klaim keislaman kelompok islamisme garis keras, sesungguhnya tak lebih dari politik agama untuk mengambil ruang dalam politik kenegaraan kita. Ilusi Khilafah Islamiyah misalnya, adalah mega proyek yang sejak dulu tak menemukan keberhasilannya, bahkan organisasi Hizbut Tahrir sudah dilarang di banyak negara. Indonesia termasuk terlambat melarang organisasi tersebut. Sebagai efeknya, sudah banyak umat Islam yang tak memiliki akar pemahamam keislaman moderat yang kuat, tercerabut dari dari jati diri dan latar keindonesiannya. Seolah-olah ber-Islam sama persis dengan ber-Arab (ber-Timur Tengah). Padahal keduanya sangat jauh berbeda. Seperti kata Jeffrey Lang, ber-Islam adalah bentuk kepasarahan pada yang mutlak, Allah SWT., untuk turut menerima segala aturan dan ketentuanNya dalam hidup.  Sedangkan ber-Arab adalah bentuk peniruan terhadap tradisi dan budaya Arab, yang sejatinya berbeda dengan ajaran Islam. Islam sebagai agama ajarannya selalu kompatibel dengan ragam budaya yang ada di seluruh dunia.

Pada titik ini, kita bisa memahami sesungguhnya ada segelintir oknum, yang menunggangi umat untuk terus melawan pemerintahan Jokowi dengan dalih anti-Islam dan mengkriminalisasi ulama. Mereka tak akan diam sebelum mencapai kehendaknya. Belakangan tersiar kabar bakal menggelar Ijtima Ulama ke 4. Apa gerangan yang bakal dibahas? Tentu tak jauh dari strategi bagaimana membangun narasi islamisme guna dimanfaatkan mencekoki umat untuk tidak percaya pada pemerintahan Jokowi. Padahal kontetasi Pilpres telah usai dan putusan Mahkamah Konstitusi telah mengakhiri segala bentuk perselisihan mengenai Pilpres.

Kita harus sadar, bahwa Islam agama ketentraman. Jangan sampai, agama justru dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingan politiknya. Sehingga ketegangan dan kegaduhan terjadi antara sesama umat Islam. Pengalaman mendukung Prabowo harusnya menjadi pelajaran bagi umat Islam tentang politik. Dalam politik tidak ada yang suci kecuali kepentingan. Kalau itu sesuai dengan kepentingannya maka apapun bisa dianggap suci. Sedangkan kesucian agama sama persis dengan kesakralannya sebagai jalan hidup dan keabadian.

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.