Negara Memasung Imajinasi (1)

Laporan hukum Jokowi Mania soal ilustrasi sampul Majalah Tempo yang dianggap mendiskreditkan Presiden Jokowi, sungguh sangat disayangkan. Hal itu seharusnya tidak menjadi persoalan. Apalagi media pers adalah wadah aspirasi masyarakat.

Kita mengenal Tempo sebagai media pers yang sangat kredibel. Mampu mewadahi aspirasi rakyat secara luas dan baik. Memaknai ilustrasi wajah Presiden Jokowi di majalah sebagai bentuk penghinaan adalah sebuah tindakan yang terburu-buru. Setidaknya setiap tuduhan mempunyai dasar argumentasi. Karena sebuah ilustrasi sifatnya dinamis dan mengandung kompleksitas makna kehidupan sosial.

Ilustrasi gambar adalah bagian dari seni. Setiap seni ilustrasi mempunyai makna universal. Orang-orang bebas memaknai sebuah hasil ilustrasi gambar sesuai pemahaman mereka. Apalagi ilustrasi tersebut datangnya dari media terpercaya. Yang pasti mengandung pesan-pesan moral kehidupan.

Kalau kita coba memahaminya, gambar bayangan Pinokio di belakang wajah Presiden Jokowi serta kalimat ’’Janji Tinggal Janji’’ merepresentasikan kondisi galau antikorupsi atas janji Pak Presiden. Mereka menganggap revisi UU KPK akan menghambat jalannya pemberantasan korupsi. Gambar Pinokio mengilustrasikan di mana pak Presiden tidak menepati janjinya soal komitmen pemberantasan korupsi.

Di negara demokrasi semua orang bebas berekspresi. Kebebasan media cetak dan daring bukti bahwa ini negara demos. Seharusnya Jokowi Mania beserta PDIP memahami hal tersebut. Di negara demos imajinasi lebih dibutuhkan. Imajinasi dapat meningkatkan nalar seseorang sampai ke pemahaman yang bijaksana.

Kondisi politik kita sekarang sudah memasuki transisi budaya pelaporan, reaktif, dan kekurangan imajinasi. Setiap hal bagi mereka selalu berbau diskriminatif dan pelecehan. Keuntungannya adalah kepuasan nafsu.

Budaya tersebut kemudian menjelma UU ITE. Setiap ekspresi yang melecehkan orang lain akan masuk ranah hukum. Tentu hal ini mengganggu kebebasan berekspresi. Lebih fatal lagi, jika karya sastra dan karya seni di media sosial nanti bakal dituduh melanggar UU ITE. Dari semua itu, wajah negara kita lebih mirip wajah masa lampau di mana orang-orang bungkam dan takut.

Imajinasi adalah proses menuju telos. Dalam bahasa Yunani, telos bisa berarti akhir, tujuan, dan maksud. Berimajinasi bukan berarti membayangkan atau mengada-ngada. Klaim reaktif tanpa tahu kejelasannya, lebih dikuasai nafsu daripada imajinasi terlebih dahulu.

Oleh karena itu, memahami sebuah karya ilustrasi gambar majalah Tempo harus dibarengi dengan imajinasi. Tidak asal menuduh pelecehan dan semacamnya. Apalagi sampai dibawa ke ranah hukum. Hidup di negara demokrasi seharusnya jiwa lebih terlatih untuk menahan buruk sangka. Sebab, dalam demokrasi semua bisa terjadi. Everything will happen di negara ini (bersambung).

M. Hariri

M. Hariri

Lulusan filsafat Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya.