Negara Memasung Imajinasi (2)

Demokrasi tumbuh di dalam kemajemukan. Ekspresi dari semua unsur keberagaman mendapat perlindungan. Menurut Gus Dur, kemajemukan yang dibarengi toleransi melahirkan keharmonisan. Keharmonisan timbul karena sikap menghargai dan bijak dalam menanggapi sebuah peristiwa. Tidak gagap dan merenungi berbagai peristiwa yang terjadi.

Perbincangan di kalangan akademisi dan masyarakat yang memperhatikan jalannya pemerintahan sekarang adalah soal kritik. Banyak dari mreka mengatakan, pemerintah sekarang seolah anti kritik. Misalnya tentang banyaknya tuduhan pelanggaran UU ITE dan tidak boleh melecehkan presiden.

Namun kita harus paham betul mana pelecehan dan kritik. Pelecehan tumbuh dari nafsu iri dan dengki. Sedangkan kritik mengekspresikan kondisi sosial tertentu. Apakah ilustrasi gambar Pinokio di majalah Tempo termasuk pelecehan?

Penilaian orang tentu berbeda-beda. Namun kondisi sosial-politik sekarang mungkin bisa mewakili seluruh perbedaan pandangan publik. Artinya, ilustrasi wajah Pinokio di belakang Pak Presiden memuat unsur kegelisan publik. Dengan begitu, seharusnya kita sebagai makhluk terdidik meluangkan waktu sejenak, mengimajinasikan gambar tersebut, daripada reaktif pada sesuatu yang masih multitafsir.

Kontribusi Pendidikan

Melihat fakta yang ada, maka penting rasanya menyiapkan generasi emas yang lebih baik dari generasi kita. Generasi kritis, imajinatif, dan bijaksana. Tentu sekolah dan lembaga pendidikan umumnya adalah tempat paling tepat untuk memulai.

Sekolah harus berubah haluan dari cara doktrinisasi ke dialog bersama. Mencekoki pelajar dengan pengetahuan yang tidak mengandung unsur keterbukaan atau dengan cara paksa dapat membuat pelajar stagnan.

Kemampuan pelajar di dalam kelas rata-rata mengikuti apa kata pengajar. Pengajar berkata tidak, mereka patuh. Berkata iya, mereka juga patuh. Budaya doktrinisasi dalam proses belajar ini menghentikan imajinasi para pelajar. Menjadi bahaya besar jika pelajar dicekoki pengetahuan agama yang kaku. 

Menurut Metta Prajna, kelas-kelas yang dicekoki pengetahuan agama yang kaku, bisa membuat pelajar memandang rendah teman kelas yang beda agama. Jika demikian, apa yang bisa diharapkan dari pelajar yang berpikiran sempit demikian.

Tentu harapannya berubah lebih baik. Karena pandangan sempit yang mereka miliki sangat mudah membuat mereka cenderung reaktif pada sesuatu yang sifatnya sensitif.

Oleh karena itu, menurut Metta, sangat penting memberi ruang imajinasi bagi pelajar. Karakter muda mereka perlu diisi dengan sesuatu yang kompleks dan tidak menjerat mereka dengan satu pengetahuan. Mereka bukan hanya pribadi-pribadi yang mesti dikembangkan di sekolah, tapi juga di lingkungan kehidupan sosialnya. Imajinasi bisa membuat mereka berkembang lebih baik lagi. Memberi pengetahuan baru yang mungkin tidak ada di sekolah.

Persoalan pengetahuan sempit yang sering menimbulkan kegaduhan—termasuk ilustrasi wajah Presiden Jokowi di Majalah Tempo—sehinga menjadi masalah yang cukup besar. Sulit mengubah cara pandang publik secara cepat. Yang paling memungkinkan kita lakukan, mempersiapkan generasi mendatang lebih baik lagi.

M. Hariri

M. Hariri

Lulusan filsafat Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya.