Pendidikan Berbasis Kewirausahaan

Pendidikan wirausaha sering lahir justru di luar kelas (pendidikan). Ia lahir dari himpitan serta desakan masalah hidup yang membuat orang kemudian bergerak dan berpikir keras untuk melakukan usaha atau lompatan hidup. Karena tak banyak lahir dari kurikulum atau didikan dalam kelas, ilmunya pun seringkali berkembang seiring dengan tantangan dan masalah yang dihadapi oleh seorang pengusaha. Barangkali karena itulah, seorang pengusaha banyak lahir dari didikan pendidikan non formal.

Mereka semula hanya belajar skill atau keahlian dari kursus atau pelatihan. Seiring berjalannya waktu, mereka pun berusaha untuk membuat sendiri usaha dan mengembangkan keterampilan yang mereka dapat. Dari sanalah kita mendapati para pengusaha ini lambat laun bisa mengatasi tak hanya persoalan hidupnya sendiri, tapi ikut memberi sumbangsih menyelesaikan persoalan orang lain.

Agus Bastian yang juga seorang pengusaha menulis di buku Membentuk Jiwa Wirausaha, “Mengapa Indonesia masih tertinggal dalam bidang ekonomi dari negara-negara lain di Asia Tenggara, jawabannya pemerintah Indonesia belum kreatif. Kita masih bemental pedagang bukan wirausaha. Indonesia masih mengekspor barang mentah atau kayu gelondongan. Indonesia masih sering mengekspor ikan segar, tidak mengolahnya lebih dulu agar bernilai. Mengapa Indonesia masih belum kreatif, banyak yang mengatakan karena Indonesia masih banyak sumber daya alam.”

Mentalitas kreatif memang harus dibentuk dan diajarkan semenjak dini. Mentalitas ini akan sangat berguna di masa-masa seperti sekarang terlebih di masa mendatang yang tantangannya lebih berat. Orang yang terbiasa dihimpit masalah, ia akan terbiasa untuk menyelesaikan persoalan dengan mudah.

Kebanyakan pendidikan kita lebih berorientasi pada bagaimana menjadi pekerja, sehingga tidak banyak yang berorientasi pada bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan. Rasio antara pencari kerja dengan lapangan pekerja sering tak berimbang. Ini bisa dilihat saat pengadaan job fair. Terlebih saat kebanyakan pengangguran justru berasal dari sarjana terdidik. Mereka sering berharap menjadi aparatur sipil negara (PNS) ketimbang bekerja di tempat lain atau malah menjadi wirausaha.

Pada perguruan tinggi memang sudah banyak kucuran dana yang cukup untuk melatih jiwa wirausaha mahasiswa. Akan tetapi, tak banyak yang kemudian memuahkan hasil menjadi wirausaha yang sukses. Sering dari mereka hanya berorientasi praktis untuk merogoh dana semata.

Kurikulum kewirausahaan menjadi dibutuhkan di era sekarang agar kelak anak-anak ke depan tak sekadar menjadi seorang yang hanya “memangku tangan” dan hanya bisa menunggu kesempatan. Dengan kurikulum berbasis wirausaha, kita bisa mengajak anak-anak kita lebih kreatif, menggunakan seluruh potensi fisik dan pikiran mereka menciptakan peluang usaha dan membuat mereka mandiri.

Di sekolah sendiri, sering kita jumpai aturan yang terkadang menutup peluang anak untuk berwirausaha. Anak-anak perlu diajak untuk membuat produk, mengajak mereka untuk berkarya dan melatih mereka memasarkan karya mereka. Di sekolah dasar hal itu sudah marak dengan adanya Kids Market atau pasar anak. Kegiatan ini bukan hanya melatih anak untuk berkreasi membuat produk, tapi juga melatih mereka berdagang, dan sekaligus promosi.

Di tingkatan SMP atau SMA sebenarnya bisa lebih memungkinkan lagi. Di pelajaran SBK (Seni Budaya dan Kesenian), anak-anak bisa diajak untuk membuat karya, dan diajak untuk memasarkan produk mereka secara online. Hal kecil seperti ini sepertinya terlihat mudah dan sederhana, tapi berguna untuk melatih mentalitas anak menjadi petarung dan seorang yang produktif.

Pendidikan kewirausahaan bermula dari kebiasaan berpikir anak yang kreatif, kritis dan eksploratif. Di SD Mangunan misalnya, anak dilatih untuk membuat pertanyaan kreatif di luar pertanyaan pelajaran. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa berasal dari hal-hal yang ditemui di kehidupan sehari-hari mereka atau peristiwa yang menggelitik rasa ingin tahu.

Sayangnya, pendidikan kita selama ini belum mendidik anak untuk berani untuk bertanya dan menyatakan gagasannya. Inilah yang kemudian mengakibatkan pikiran anak-anak kita linier, tak kreatif dan seringkali takut resiko.

Adanya pendidikan berbasis kewirausahaan perlu dibangun semenjak dini, agar anak terlatih untuk menyelesaikan masalah, berlatih memadukan antara pikiran tenaga mereka untuk berlatih produktif dan berdayaguna. Sehingga ke depan makin banyak para pengusaha yang berdikari dan berjaya tanpa harus menunggu dan menggantungkan diri dari uluran pemerintah.

Sebenarnya kurikulum 2013 sudah banyak memberikan kesempatan bagi murid untuk berkreasi. Bila guru mengajar dengan benar, maka akan banyak anak berkreasi dengan pra-karya dan hasil produk dari aneka pembelajaran yang ada di sekolah. Akan tetapi bila guru gagal dalam menafsir kurikulum ini, hal ini tak mengubah paradigma yang dominan selama ini, yakni guru adalah raja di sekolah atau kelas. Adanya kurikulum berbasis kewirausahaan adalah usaha penting untuk memupus dominasi guru dalam kelas, sehingga anak lebih kreatif dan produktif.

Arif Yudistira

Arif Yudistira

Pendidik di SMK Kesehatan Citra Medika, pernah mengajar di MIM PK Kartasura. Email: arif_love_cinta@yahoo.co.id